Getaran Puisi
Enggan mengaku, kini Tatkala menyadari rantai budaya perlahan menurun Terkikis arus dunia, tak terjaga Untaian huruf yang berjajar rapi Kini dianggap angin, itupun cuma sebatas Kemana euforia akan kalimat persuasif? Kemana getar hati akan tepatnya pemilihan diksi? Jangan sampai bahasa milik sendiri bertitel kuno Keindahan puisi tak hanya dari hati si empunya Kata-kata pilihan turut berperan, mempunyai andil Menyihir mata akan pandangan sebuah karya sastra Merasuk, mengelabui jiwa penikmat muda Layaknya genderang, bergetar, dan merambat tepat ke ulu hati Tunggu itu tiada arti, kini Berubah sajalah, tantang arus Ambil pena, dan tuangkan ide terpendam itu Siapa tahu?