Posts

Showing posts from May, 2015

Pemikiran Dini Hari

Ini daftar pertanyaan dan pemikiran di dini hari sekarang ini. Daripada memupuk semuanya di kepala, lebih baik ditulis aja. Sekali-kali nulisnya di sini, hehehe. Selamat membaca (dan mungkin juga akan merenung). Mungkin yang mau berkomentar atau bantu menjawab dan ngasih masukan, I'll glad to see your comment :D *Kalo aku nggak punya hape, nggak punya sosial media dan semuanya itu, masihkah ada yang berusaha menghubungi aku selain keluarga? Entah berusaha ketemu langsung, kirim surat, atau telepon ke rumah/kos. Masihkah ada yang peduli? Atau bakal banyak yang acuh dan nggak peduli? *Apa pertemanan jaman sekarang itu nyata? Apa orang-orang ini saling kenal satu sama lain, atau hanya sekedar tau lewat sosial media? *Apa ikan punya telinga? Gimana mereka bisa mendengar? (pemikiran tolol, tapi ini jujur, guys. I thought about it in this early morning ) *Apa bener meteor besar bakal dateng ke bumi? *Gimana semut mengucapkan salam ke sesama semut? Berarti mereka termasuk sopa...

Ilmu

Sedang berkolaborasi dengan waktu, untuk mendapat ilmu. Serupa tanaman yang membutuhkan air untuk terus tumbuh. Berkembang. Menjulang tinggi, namun merundukkan batang dan daun-daunnya yang lebat. Sedang berdebat dengan diri, ketika keinginan berbenturan dengan kebutuhan. Memperebutkan posisi teratas prioritas. Kali ini, kebutuhan akan ilmu menang. Ia primadona dalam wilayah pikiran. Ilmu kini pri-o-ri-tas. Sedang berjalan maju mencari ilmu. Ilmu. Bukan nilai yang menyamar menjadi ilmu. Merasakan kebutuhan akan ilmu karena itu warisan untuk semuanya. Berpikir. Menganalisa. Mengamati. Belajar. Namun tetap wajar. Sederhana, apa adanya, cukup. Nilai sekarang bergelimpangan menghalangi jalanan, sementara tujuan utama belum terpenuhi. Yaitu ilmu. Lagi-lagi ilmu. Pusing, memang. Memandang tulisan , angka, tabel, paragraf, lalu berpikir. Berpikir. Masih berpikir. Kemudian penat. Namun butuh. Kebutuhan yang merangkap hak. Terlalu sayang diabaikan. Tapi nilai tak bisa dibiarkan terus jumawa,...

Syair Bersama

Kita pernah Berlari-lari bagai hari esok hanya bualan Merayapi setiap senti kesenangan-kesenangan Menyapa duka lara Mengguratkan cerita karena cinta Melangkah pasti atas dasar nama asa Kita pernah Menganggap jatuh itu lumrah Pun amarah, yang menghinggapi tiap individu Segalanya terasa akrab Yakin kita tetap satu, tanpa ragu Percaya, keberagaman hanyalah ilusi Dan kebersamaan adalah fakta Kita pernah Berpeluh, berkeluh kesah Berharap segalanya berakhir sudah Terlalu lelah. Namun cerita telah dimulai, tak berguna jika hanya berisi lelah Pun resah, atau bahkan gundah Kembali kita menapaki jalanan, memulai langkah Kini... Kita kembali 'kan terpecah Tentu bukan untuk berpisah Namun karena masa depan telah menyapa Memberi selamat pada kita Impian kini nyata dan kita gembira Maka inilah terima kasihku Pada semua individu nan lucu Bukan sayu, atau kuyu, apalagi layu Namun mungkin masih berwajah lugu Yang mengasah kisah ...

Rela

Ragu. Namun langkahmu tiada sayu, menuntun sepasang kakiku Ke tempat dimana ketakutan itu bualan Menentang kegelapan yang menjalar tak tahu diri Yang merengkuhku dalam ketakutan tak berarti Lalu kita satu Melebur bersamaku, denganku Tak adanya jarak tampak memikat Pun segala pekat, terlihat menawan Aku telah mengalah dengan rela Dan kau tetap mencinta Dengan tega, tanpa jeda Kini aku berani Denganmu, segala gundah menyurut mundur Pun jika kau nanti meletakkanku Dalam dasar segala luka Maka aku akan rela Mencinta memang pararel dengan duka lara, bukan? Lagipula aku hanya ingin merasa Bukan terpagut mengamati dari balik kaca

Satu Sedih

"Kau tahu satu hal yang membuatku sedih?" "Apa?" "Bahasaku telah mati. Dilepas satu persatu dari maknanya dan ditaburkan dalam bumi. Kini menghilang. Ingin tahu yang lebih menyakitkan?" "Apakah itu?" "Kau yang tidak memperhatikan. Bara di sepasang mata itu telah lama padam, dan kini menyala lagi. Untuknya" "Itu tidak benar!" "Jika memang tidak benar, perlukah tanda seru itu kau serukan? Untukku, yang tetap berdiri hingga kini, menancap dalam pada bumimu. Perlukah?" Ekspektasimu bergelimpangan, menghalangi diriku yang sebenarnya dalam menemukan jalan. Padamu. Tersandung ekspektasi itu, dan berakhir dengan hilangnya eksistensi diri sendiri. Digantikan oleh keinginanmu. Rasa nyeri tidak merambati dirimu selayaknya mereka menggerogotiku dari dalam. Diam ibarat upaya pengorbanan. Dirasa masih kurang. Kemudian bara itu perlahan padam. Digelapkan, lagi-lagi oleh ekspektasi yang kini bersekongkol dengan prasangka....