Posts

Showing posts from March, 2015

Kamu

Aku percaya Dia memberiku hati seluas samudra Untuk menampung cinta yang tak terkira Tidak terkatakan Untuk mengisinya dengan sejuta maaf Penyeimbang di samping logika Lalu Dia menciptakanmu Engkaulah alasan dibalik segala harapan Engkaulah yang utama di atas angan-angan Cukup dengan ada Bahkan kata saja seakan hambar Tenggelam dalam segala rasa Bersamamu... Tidak perlu apa-apa untuk siapa-siapa Tidak perlu kata atau suara Cukup dengan ada Bahasa kita bahasa hati Bercakap tanpa perlu mengerti Bersamamu, hanya perlu merasa Dan kita tidak lagi sama

Indah Dalam Luka

Luka menganga itulah kekuatanmu Tersembunyi dalam batin yang enggan menerima Melepas dipandang mustahil Rela dirasa seberat timah di pikul Cinta yang mengakar karena waktu Semakin menguat karena ketiadaan Adalah sumber kekuatanmu seorang Tak seorang pun sanggup memahami Tidak ada siapa-siapa Engkau menghadapi namun tak menatap Engkau merasa namun tak menyelami Karena cintamu kini sejajar dengan luka Sebaris dengan perih torehan takdir Dan air mata kau rasa mahal untuk tampil Cintamu telah tumbuh sederhana Berakar sedalam nadi dalam diri Mengertilah, pergi berarti kembali Kembali berarti menetap Khawatir hanya rasa sementara Luka dan perih hadir untuk sembuh Melebur dengan alur waktu bersamamu Hidup ini indah Selayaknya segala ciptaanNya yang lain Karena Dia Yang Maha Indah percaya denganmu Memberimu rencana-rencana indah Karena kamu pun serupa keindahan yang murni Walau ditempa luka bak rintik hujan pagi hari

Jenuh

Detik ini semesta berbicara Manusia bersuara bersama Serentak tanpa aba-aba Berisik. Aku jenuh. Dimana letak keheningan? Penat sudah merajai tanpa tahu malu Meluluh lantakkan sepi yang murni Namun, keheningan masih berani bersembunyi? Mungkin sudah tercampur baur bersama bising? Detik selanjutnya aku yang bertutur kata Aku ingin sendiriku bulat utuh Tidak menjadi bagian dari perjalanan waktu Ada bukan untuk siapa-siapa Juga menetap tidak dimana pun Aku eggan larut dalam hiruk pikuk Malas menjadi bagian keributan Berisik. Aku jenuh. Biarkan aku sendiri Bersama runutan nafas teratur Suara-suara desir yang samar Nada-nada yang harmonis Atau bahkan koor membahana dari kodok depan selokan Kenapa tidak? Karena semua menjadi berisik. Dan aku jenuh.

Realita

Realita malang melintang dan terpampang Fakta yang begitu nyata Belum kuhadiri pun sudah menyambut Lucu memang bagian dari hidup Bagaimana ke-tidak siap-an Membuat yang dijauhi semakin nyata Contoh menunjuk realita Seperti sinar matahari yang melenyapkan kabut Sedang kabutnya adalah mimpi Bangun, mari bertemu realita Pilihlah untuk siap Bukan hanya siap yang minim aksi Sapa saja realita layaknya bertemu kawan Hapus bersih ekspektasi Ekspektasi setara mimpi, tidak nyata Penyebab realita tidak lagi murni Ia bukan realita, hanya anak pikiran Realita bukan buah pikiran Ia adalah kejadian Tunggu apa? Melangkah dan hadapi Bukan menerjang tak tahu arah Atau berdasar takut Ini kan realita, ia kawan lama Katakan saja halo Ia akan menjadi gumpalan kebahagiaan yang membesar Tunggu apa? Realita sudah menyapa