Posts

Showing posts from September, 2019

Satu Surat

Kepada, yang katanya wakil rakyat di ruangan dingin Dengan hormat, Hanya mengingatkan Pak, Bu, anarki sejati tidak pernah mati. Cuma jiwa yang berganti dan aksi yang memperbanyak diri. Sekali Bapak dan Ibu memantik api kemarahan kami karena terjadi ketidakadilan, maka kami akan terus melawan. Cinta negara memang produk politik identitas. Tapi politik atau bukan, NKRI adalah janji pulang paling tenang. Seumur hidup kami menyebutnya kampung halaman. Rasa ini mutlak, maka tanah air kami jangan terus menerus diusik. Jangan terlena kenyamanan dan tingginya status jabatan. Karena kami tidak hidup di taraf kenyamanan yang sama. Selama Bapak dan Ibu enak-enakan, sebagian dari kami keras bertahan. Sekedar ingin cari makan. Jangan lupakan hukum ditetapkan untuk mencapai keteraturan serta kemakmuran, bukan membeda-bedakan. Bukan sekedar mencari cuan. Pak, Bu, kami ini cuma diam. Bukan tidak paham lalu menolak ambil bagian. Sekali lagi, jangan remehkan kami. Karena pada waktunya, kami lek...

Pulih

Tertoreh riwayat tentang wilayah kepulauan Konon terkuat, penakluk samudera Tak tertandingi bersama para raja Kini terkoyak banyak kubu dengan beda tuju, banyak mulut beda maksud Jangan terperangah tatkala banyak politik bermuka dua yang bisa-bisa melahapmu tak bersisa Hukum seringnya tertebas pundi-pundi Yang lantang dienyahkan ke dalam sel, yang sadar disenyapkan melalui narasi-narasi penuh opini sumbang Sungguh, bising sekali. Petinggi rakus akan puja puji, masalah hidup mati justru beroleh sedikit atensi Alasan yang diserukan atas nama demokrasi Atau justru kepentingan pribadi? Berusaha mencintai negara sendiri tidak pernah sebegini kacau Rupanya merdeka tidak lantas lepas dari susah payah Lekaslah pulih, Indonesia Aku menjelang menangmu dalam tiap sikap Aku menunggu tenangmu agar terus menetap