Kini
Aku suka menelaah wajahmu. Yang jika dirinci, maka akan serupa dengan bocah balita. Kekanakan. Kekanakan yang menjengkelkan, mengundang kesal berdatangan dengan jumlah yang tak mampu ditakar. Jangan harap maksudku mengartikan kekanakan adalah imut, lucu, dan menggemaskan yang sama sekali tak akan menjadi rupawan di usiamu yang sekarang. Tapi aku terjun bebas dalam semarak kemeriahan tawa kita semalam yang tak bertujuan. Tenggelam dalam obrolan yang meyakinkanku bahwa ini tak berbatas, dibungkus kenyamanan. Instan. Aku masih diapit oleh keraguan, yang sangat keras kepala kau coba enyahkan melalui tindakan-tindakan tanpa otak dengan hasil nihil. Tak lama kudapati diriku mempertahankan wujud realitas dan khayalanmu, tidak secara mati-matian, tapi cukup untuk membuat egois bertekuk lutut dan undur diri dari hati yang kau hinggapi kini. Tak dianya, kita mampu berjalan sejauh ini. Perjalanan yang semula kuanggap mitos, tak patut beroleh atensi. Buang-buang waktu. Mitos yang kau runtuhka...