Posts

Showing posts with the label Puisi

Gelap

Rupawan namun suram Gelap, nyaris meredupkan Mungkin mematikan perlahan Aku tak undur diri sama sekali Kita habiskan saja maknanya Sampai lenyap tanya dan ragu Lalu bersatu meski tak padu Tak perlu rayu, sudah basi Kita menelanjangi kata Melalui sorotan mata yang menaungi rasa Kelabu yang meraup rahasia kelam Sembunyikan kisah dalam diam Kita telah lama mengerti, bukan? Tak akan ada yang tersisa Tidak juga kita. Berdua. Bersama. Sama saja.

Kubiarkan

Sekilas dalam rinai hujan, kamu ada Selaras rasa yang mengintai Mengancam menguasai kembali hati Kubiarkan. Menyenangkan, rindu yang saru Menyapa kembali Kenangan berkelebat cepat Menyeru mengajak Kubiarkan pula. Kamu satu, kuakui itu Aku rindu, aku pun tahu Hujan itu sarana berbicara Dariku, untukmu Ketika jarak merentang pasti Kubiarkan. Hanya agar kamu tahu...

Jatuh

Jatuh sudah. Kalah telak. Bukan retakan, tapi serpihan Menyelaminya lagi? Sulit Terlalu erat digenggam, tanpa mencecap kebebasan Lalu tergelincir, pecah Warna-warna pudar yang beranjak hilang Sedikit lagi akan berakhir Kilauan multiwarna dan sejuta bahasa Pelan-pelan terhapus senyum pagi hari Bukan inginku Sebentar lagi akan tiba waktunya Mata melihat kecewa Namun hati mati rasa Dipadamkan bersama asa-asa Seulas senyum pertama untuk mentari yang kelak menghapusnya

Lima Kata Cinta

Cinta itu Tuhan Behimpun ku sembari bersyair Kata orang itu doa Tak ku mengerti mengapa terucap kala nestapa saja Bahagia? Karena ini manusia Cinta itu orang tua Kecewa tak terbagi yang kutelan sendiri Namun dendam menciut Kasih menjadi semena-mena Berlabuh saja di hati, tanpa kompromi Cinta itu laki-laki Menawarkan kata manis Berbisik halus merdu meninggalkan rindu Atau mungkin hawa nafsu Yang saru Cinta itu sajak Wadah bagimu untuk mengenaliku Ya, aku. Yang bercinta melalui bahasa

Keberadaan

Good night (late at night, I should say). Ini ada... umm, puisi? Prosa? I don't even know what is it. Ini adalah hasil perbincangan malam hari antara aku sama seorang Amalia Ekowati. Kata siapa sahabat harus saling ejek, marahan, diem-dieman, musuhan, dan lain sebagainya yang banyak diperbincangkan itu? Kita bahkan bisa saling lempar kata (yang sayangnya kurang gereget kalo via WhatsApp ). Menyenangkan. Cause Amalia Ekowati just like a star in the sky.  Nggak perlu muncul tiap saat, terikat tiap waktu, tapi dia ada. Kita ada. Fyi, yang pink itu aku dan yang biru itu Amel. Enjoooyyyyy ;)))   Asing adalah teman yang terlupa karena akrab yang jumawa Asing adalah teman lama Sedang aku pula lupa kawan adalah lawan yang tersenyum padaku Karena aku membangun sekat dari enggan Teman itu bualan bukan? Bungkus terbaik dari lawan Harus kuapakan tanda tanyamu? Terlanjur enggan dibuai realita lalu ku iyakan juga Akhirnya kita terbungkus rapi Bungkus yang...

Syair Bersama

Kita pernah Berlari-lari bagai hari esok hanya bualan Merayapi setiap senti kesenangan-kesenangan Menyapa duka lara Mengguratkan cerita karena cinta Melangkah pasti atas dasar nama asa Kita pernah Menganggap jatuh itu lumrah Pun amarah, yang menghinggapi tiap individu Segalanya terasa akrab Yakin kita tetap satu, tanpa ragu Percaya, keberagaman hanyalah ilusi Dan kebersamaan adalah fakta Kita pernah Berpeluh, berkeluh kesah Berharap segalanya berakhir sudah Terlalu lelah. Namun cerita telah dimulai, tak berguna jika hanya berisi lelah Pun resah, atau bahkan gundah Kembali kita menapaki jalanan, memulai langkah Kini... Kita kembali 'kan terpecah Tentu bukan untuk berpisah Namun karena masa depan telah menyapa Memberi selamat pada kita Impian kini nyata dan kita gembira Maka inilah terima kasihku Pada semua individu nan lucu Bukan sayu, atau kuyu, apalagi layu Namun mungkin masih berwajah lugu Yang mengasah kisah ...

Rela

Ragu. Namun langkahmu tiada sayu, menuntun sepasang kakiku Ke tempat dimana ketakutan itu bualan Menentang kegelapan yang menjalar tak tahu diri Yang merengkuhku dalam ketakutan tak berarti Lalu kita satu Melebur bersamaku, denganku Tak adanya jarak tampak memikat Pun segala pekat, terlihat menawan Aku telah mengalah dengan rela Dan kau tetap mencinta Dengan tega, tanpa jeda Kini aku berani Denganmu, segala gundah menyurut mundur Pun jika kau nanti meletakkanku Dalam dasar segala luka Maka aku akan rela Mencinta memang pararel dengan duka lara, bukan? Lagipula aku hanya ingin merasa Bukan terpagut mengamati dari balik kaca

Malamku

Malam adalah waktuku Hingar bingar, hingar bingar, hingar bingar, lalu hening Sederhana yang sempurna, sempurna dalam kesederhanaan Kerlap-kerlip, bintang Kerlap-kerlip, lampu Bebas berbahasa, bebas merasa Bebas berbicara, bebas tertawa Karena semua mata telah sayu Karena semua hati telah layu Dan yang tersisa hanya aku Siapa itu 'aku'? Tidak ada yang tahu Pun diriku Apalagi kamu Malamku memiliki irama Sunyi. Lalu irama detik, detik, detik jarum jam mengalir Sepi. Lalu irama detak, detak, detak jantung mengiringi Senang? Tentu, sekalipun senangku ilusi Sedih? Tidak, sekalipun sedihku adalah fakta Bukankah ini waktunya bermimpi? Mengapa masih terjaga?

Candu

Kau adalah candu, candu untuk keseharianku Gamang diri ini, berdebat riuh Ragu melangkah dalam kubangan keinginan tak bertepi Berharap penawar, sekaligus ingin terus menjadi pecandu Pararel dengan itu, aku kini merindu Segalanya tampak samar, berkelip nyaris lenyap Saat itu pun aku tetap merindu Rindu yang tak tahu malu, tak kenal waktu Menetapkanku menjadi pecandu nan bingung Tak sudi sembuh, namun enggan melangkah lebih jauh Kau adalah candu Mengalir dalam darah, tepatri lekat pada otak Membuat detik dikalahkan oleh detak Alasan dibalik senyum seorang diri setiap hari Penyebab hilangnya deskripsi diri Candu, yang memerangkapku di tempat tak bertepi

Kamu

Aku percaya Dia memberiku hati seluas samudra Untuk menampung cinta yang tak terkira Tidak terkatakan Untuk mengisinya dengan sejuta maaf Penyeimbang di samping logika Lalu Dia menciptakanmu Engkaulah alasan dibalik segala harapan Engkaulah yang utama di atas angan-angan Cukup dengan ada Bahkan kata saja seakan hambar Tenggelam dalam segala rasa Bersamamu... Tidak perlu apa-apa untuk siapa-siapa Tidak perlu kata atau suara Cukup dengan ada Bahasa kita bahasa hati Bercakap tanpa perlu mengerti Bersamamu, hanya perlu merasa Dan kita tidak lagi sama

Indah Dalam Luka

Luka menganga itulah kekuatanmu Tersembunyi dalam batin yang enggan menerima Melepas dipandang mustahil Rela dirasa seberat timah di pikul Cinta yang mengakar karena waktu Semakin menguat karena ketiadaan Adalah sumber kekuatanmu seorang Tak seorang pun sanggup memahami Tidak ada siapa-siapa Engkau menghadapi namun tak menatap Engkau merasa namun tak menyelami Karena cintamu kini sejajar dengan luka Sebaris dengan perih torehan takdir Dan air mata kau rasa mahal untuk tampil Cintamu telah tumbuh sederhana Berakar sedalam nadi dalam diri Mengertilah, pergi berarti kembali Kembali berarti menetap Khawatir hanya rasa sementara Luka dan perih hadir untuk sembuh Melebur dengan alur waktu bersamamu Hidup ini indah Selayaknya segala ciptaanNya yang lain Karena Dia Yang Maha Indah percaya denganmu Memberimu rencana-rencana indah Karena kamu pun serupa keindahan yang murni Walau ditempa luka bak rintik hujan pagi hari

Jenuh

Detik ini semesta berbicara Manusia bersuara bersama Serentak tanpa aba-aba Berisik. Aku jenuh. Dimana letak keheningan? Penat sudah merajai tanpa tahu malu Meluluh lantakkan sepi yang murni Namun, keheningan masih berani bersembunyi? Mungkin sudah tercampur baur bersama bising? Detik selanjutnya aku yang bertutur kata Aku ingin sendiriku bulat utuh Tidak menjadi bagian dari perjalanan waktu Ada bukan untuk siapa-siapa Juga menetap tidak dimana pun Aku eggan larut dalam hiruk pikuk Malas menjadi bagian keributan Berisik. Aku jenuh. Biarkan aku sendiri Bersama runutan nafas teratur Suara-suara desir yang samar Nada-nada yang harmonis Atau bahkan koor membahana dari kodok depan selokan Kenapa tidak? Karena semua menjadi berisik. Dan aku jenuh.

Realita

Realita malang melintang dan terpampang Fakta yang begitu nyata Belum kuhadiri pun sudah menyambut Lucu memang bagian dari hidup Bagaimana ke-tidak siap-an Membuat yang dijauhi semakin nyata Contoh menunjuk realita Seperti sinar matahari yang melenyapkan kabut Sedang kabutnya adalah mimpi Bangun, mari bertemu realita Pilihlah untuk siap Bukan hanya siap yang minim aksi Sapa saja realita layaknya bertemu kawan Hapus bersih ekspektasi Ekspektasi setara mimpi, tidak nyata Penyebab realita tidak lagi murni Ia bukan realita, hanya anak pikiran Realita bukan buah pikiran Ia adalah kejadian Tunggu apa? Melangkah dan hadapi Bukan menerjang tak tahu arah Atau berdasar takut Ini kan realita, ia kawan lama Katakan saja halo Ia akan menjadi gumpalan kebahagiaan yang membesar Tunggu apa? Realita sudah menyapa

Kebisuan

Ketika dunia turut membisu Mengapa kau butakan mata? Tulikan telinga? Bukannya melihat dan mendengar alam berbicara Kau malah terdiam dalam selaput kosong Haruskah itu? Takut bukan teman Rindu bukan pula untuk dilawan Lalu kenapa kau tidak lantas bergerak? Hanya menggapai udara kosong Dikepung rasa enggan, didesak Logika mungkin berdiri tinggi Namun hati tidak lantas menurut diam Lepaskan saja Biarkan kalimat-kalimatnya melenggang keluar Bukan waktunya rasa takut menjadi juara Pecahkan saja kebisuan itu, jangan larut Cerita ini belum waktunya diakhiri

Ijinkan Aku

Sejauh apa pun kaki ini berlari Melangkah cepat menjauh Rindu selalu menjadi pemenang Dekat dan merapat dalam poros waktuku Inginku hanya selesai Inginku segalanya terhapus tahun yang terus berganti Namun tahun telah berjalan pasti Dalam perjalanannya, waktu lupa membawa serta Cinta yang terlanjur berakar kuat Dan asa yang tidak terlahir untuk padam Aku lelah pergi dan mencari Karena aku tahu aku akan kembali Kini, ijinkan aku melebur Menyapamu dalam sekat antar detik Mengenalmu dalam hening yang kini turun Aku hanya akan diam Membiarkan cinta berbicara melalui setiap bibir Membiarkannya mewujud dalam banyak hal Membiarkannya menetap dalam kekekalan Bersamamu. Sekali saja...

Langkah Semangat

Semangat kita adalah api yang berkobar Membakar rasa jengah yang hinggap Membakar rasa enggan untuk mereguk ilmu Membakar segala kemalasan hingga menjadi abu Untuk kemudian menghilang terbawa angin Semangat kita adalah fakta! Kita adalah satu Satu kumpulan yang semakin mendekati tujuan Satu rangkaian dalam mencapai mimpi-mimpi Langkah kita ini langkah pasti Menderap bersama menuju gerbang ilmu lebih tinggi Kita adalah calon pemenang Yang telah membuat memori berwarna Tanpa henti menggoreskan sejarah Hingga pentas hidup yang ini usai Dan berganti dengan panggung kehidupan yang baru Biarkan bara semangat ini bebas lepas Membara, menyebarkan cahayanya sendiri Melahap kita, satu yang bersama Membawa kita berjalan lebih jauh Perjalanan yang berakhir dalam realita berdasarkan mimpi

Selamat Malam

Selamat malam, dirimu Biarkan hari penatmu diakhiri Oleh kantuk yang mengharapkan tidur nyenyak Dan keletihan yang bersiap pergi Ucapkan doa sepenuh hati saat ini Selamat malam, dirimu Relakanlah semangatmu diundang kembali Menggantikan kursi yang sebelumnya diisi beban Lelehkan saja kesenangan yang membeku Mimpi-mimpi indahmu telah menanti Kini, selamat tidur, dirimu Lukiskanlah senyum dalam tidurmu Untukku... Dan percikkan kegembiraan dalam esokmu Agar aku tahu, Malaikatku telah menjagamu Dengan sempurna

Bahasa Rasa

Mungkin dalam hening malam Tak ada aksara yang mewakili rasa Namun hati ini tak lantas diam memelihara sunyi Ia tetap berbicara Berbicara bahasa rasa.... Bahasa terhalus dalam dunia fana Dapat kusampaikan rindu ini Menyelipkannya dalam kepingan waktu Menghembuskannya melalui sekat-sekat mimpi Mungkin dirimu belum memahami Biarkan hati kita berbicara Sebebas udara, tanpa perlu dihela Bahasa ini adalah bahasa rasa Hanya bisa dirasa tanpa ada ekspektasi Rasakan bagaimana bahasa ini menyapamu halus Rasakan keheningan dalam keramaian Tanpa perlu kamu mengerti Hati ini berbicara padamu dalam jangka waktu lama Hanya rasakan... Dan cinta akan berbicara dengan sendirinya

Bebas

Untuk apa berjalan jika dianugerahi dua sayap Kebebasan menanti di hamparan luas langit Menunggu untuk dieksplorasi Penuh kepastian akan sekepal kepuasan pribadi Tanpa beban berat yang menggelayuti Terpenjara bukan jalan akhir Sayap-sayap ini tidak bisa berkompromi untuk terus diam Menentang takdirnya sendiri untuk terbang Memaksa dirinya sendiri untuk berjalan di tanah Dalam kungkungan ketidakpastian yang menyiksa Demi sekelebat kebahagiaan yang bahkan tidak tampak nyata Aku lelah menentang kebebasan Untuk berusaha sejajar dengan hal yang semu Aku lelah melipat sayap dan menolak sambutan matahari Untuk sebuah ketidak pastian yang menggerigiti hati Aku ingin bebas Merentangkan kedua sayap dan terbang Hanya mengikuti kata hati, mengikuti ujung pelangi Memaksa diri adalah penjaraku sendiri Kini, aku teramat ingin bebas Mereguk hidup dengan segala warnanya

Hilang

Aku mengatup... Berbaur bersama unsur terkecil dunia, tak terlihat Berkata bak pujangga kini terlampau sulit Fenomena hidup menggamitku bersamanya Dan hati ini telah lama membisu dalam keheningannya Enggan melebur bersama arus dunia Untuk kemudian dilukiskan dalam barisan bait Enggan merasakan gesekan tajam waktu Untuk kemudian diungkap melalui diksi-diksi indah Hati ini tak tahu arah, tak tahu langkah Kehilangan inti dalam hiruk pikuk suara dan rasa Kemana lenyapnya kemampuan berbahasa? Kemana lenyapnya cahaya jiwa dan inspirasi? Namun, aku tetap menapakkan kaki di atas dunia tanpa arah Memerangi keputus asaan yang mengapit Menyerah hanyalah sebuah pilihan salah Aku masih akan terus mencari cara untuk berbahasa Melukiskan rasa melalui kata Aku akan selalu mencari...