Posts

Showing posts with the label Prosa

Kini

Aku suka menelaah wajahmu. Yang jika dirinci, maka akan serupa dengan bocah balita. Kekanakan. Kekanakan yang menjengkelkan, mengundang kesal berdatangan dengan jumlah yang tak mampu ditakar. Jangan harap maksudku mengartikan kekanakan adalah imut, lucu, dan menggemaskan yang sama sekali tak akan menjadi rupawan di usiamu yang sekarang. Tapi aku terjun bebas dalam semarak kemeriahan tawa kita semalam yang tak bertujuan. Tenggelam dalam obrolan yang meyakinkanku bahwa ini tak berbatas, dibungkus kenyamanan. Instan. Aku masih diapit oleh keraguan, yang sangat keras kepala kau coba enyahkan melalui tindakan-tindakan tanpa otak dengan hasil nihil. Tak lama kudapati diriku mempertahankan wujud realitas dan khayalanmu, tidak secara mati-matian, tapi cukup untuk membuat egois bertekuk lutut dan undur diri dari hati yang kau hinggapi kini. Tak dianya, kita mampu berjalan sejauh ini. Perjalanan yang semula kuanggap mitos, tak patut beroleh atensi. Buang-buang waktu. Mitos yang kau runtuhka...

Hadirmu

Huruf tak lagi dapat dikenali. Bersamaan dengan itu pula waktu mengkristalkan diri. Beku, enggan bergerak kemana pun. Sesaat kehilangan orientasi. Inilah yang orang sebut nyata? Kenyataan yang hidup dalam kepalsuan harian yang sulit dimengerti. Kenyataan yang hanya ada ketika waktu tidak menjamah tempat kita berpijak. Atau tubuh ini memang hanya alat? Tak ada kata bukan berarti tak bicara. Kita bicara. Melampaui frasa kalimat baku dan majas-majas yang penempatannya tidak tepat. Ya, Sayang, kita bicara. Bicara bahasa non-manusia, mungkin? Bahasa sehalus udara yang kita hela dan sering terlupa. Begitu saja. Apa adanya. Semua ini tak bermuara, atau tepi memang hanya kasat mata dan sudut menunggu kita terbentur lalu sadar. Luas itu tidak pasti, maka aku tetap menikmati. Lagipula sejak kapan rasa memiliki satuan luas. Aku menikmati kenyataan yang mencakup binar sepasang mata dan senyum-separuh yang menyihirku menjadi pendamba ulung. Yang tak kunjung beranjak karena kesadaran akan manusia ...

Ilmu

Sedang berkolaborasi dengan waktu, untuk mendapat ilmu. Serupa tanaman yang membutuhkan air untuk terus tumbuh. Berkembang. Menjulang tinggi, namun merundukkan batang dan daun-daunnya yang lebat. Sedang berdebat dengan diri, ketika keinginan berbenturan dengan kebutuhan. Memperebutkan posisi teratas prioritas. Kali ini, kebutuhan akan ilmu menang. Ia primadona dalam wilayah pikiran. Ilmu kini pri-o-ri-tas. Sedang berjalan maju mencari ilmu. Ilmu. Bukan nilai yang menyamar menjadi ilmu. Merasakan kebutuhan akan ilmu karena itu warisan untuk semuanya. Berpikir. Menganalisa. Mengamati. Belajar. Namun tetap wajar. Sederhana, apa adanya, cukup. Nilai sekarang bergelimpangan menghalangi jalanan, sementara tujuan utama belum terpenuhi. Yaitu ilmu. Lagi-lagi ilmu. Pusing, memang. Memandang tulisan , angka, tabel, paragraf, lalu berpikir. Berpikir. Masih berpikir. Kemudian penat. Namun butuh. Kebutuhan yang merangkap hak. Terlalu sayang diabaikan. Tapi nilai tak bisa dibiarkan terus jumawa,...

Satu Sedih

"Kau tahu satu hal yang membuatku sedih?" "Apa?" "Bahasaku telah mati. Dilepas satu persatu dari maknanya dan ditaburkan dalam bumi. Kini menghilang. Ingin tahu yang lebih menyakitkan?" "Apakah itu?" "Kau yang tidak memperhatikan. Bara di sepasang mata itu telah lama padam, dan kini menyala lagi. Untuknya" "Itu tidak benar!" "Jika memang tidak benar, perlukah tanda seru itu kau serukan? Untukku, yang tetap berdiri hingga kini, menancap dalam pada bumimu. Perlukah?" Ekspektasimu bergelimpangan, menghalangi diriku yang sebenarnya dalam menemukan jalan. Padamu. Tersandung ekspektasi itu, dan berakhir dengan hilangnya eksistensi diri sendiri. Digantikan oleh keinginanmu. Rasa nyeri tidak merambati dirimu selayaknya mereka menggerogotiku dari dalam. Diam ibarat upaya pengorbanan. Dirasa masih kurang. Kemudian bara itu perlahan padam. Digelapkan, lagi-lagi oleh ekspektasi yang kini bersekongkol dengan prasangka....