Posts

Satu Surat

Kepada, yang katanya wakil rakyat di ruangan dingin Dengan hormat, Hanya mengingatkan Pak, Bu, anarki sejati tidak pernah mati. Cuma jiwa yang berganti dan aksi yang memperbanyak diri. Sekali Bapak dan Ibu memantik api kemarahan kami karena terjadi ketidakadilan, maka kami akan terus melawan. Cinta negara memang produk politik identitas. Tapi politik atau bukan, NKRI adalah janji pulang paling tenang. Seumur hidup kami menyebutnya kampung halaman. Rasa ini mutlak, maka tanah air kami jangan terus menerus diusik. Jangan terlena kenyamanan dan tingginya status jabatan. Karena kami tidak hidup di taraf kenyamanan yang sama. Selama Bapak dan Ibu enak-enakan, sebagian dari kami keras bertahan. Sekedar ingin cari makan. Jangan lupakan hukum ditetapkan untuk mencapai keteraturan serta kemakmuran, bukan membeda-bedakan. Bukan sekedar mencari cuan. Pak, Bu, kami ini cuma diam. Bukan tidak paham lalu menolak ambil bagian. Sekali lagi, jangan remehkan kami. Karena pada waktunya, kami lek...

Pulih

Tertoreh riwayat tentang wilayah kepulauan Konon terkuat, penakluk samudera Tak tertandingi bersama para raja Kini terkoyak banyak kubu dengan beda tuju, banyak mulut beda maksud Jangan terperangah tatkala banyak politik bermuka dua yang bisa-bisa melahapmu tak bersisa Hukum seringnya tertebas pundi-pundi Yang lantang dienyahkan ke dalam sel, yang sadar disenyapkan melalui narasi-narasi penuh opini sumbang Sungguh, bising sekali. Petinggi rakus akan puja puji, masalah hidup mati justru beroleh sedikit atensi Alasan yang diserukan atas nama demokrasi Atau justru kepentingan pribadi? Berusaha mencintai negara sendiri tidak pernah sebegini kacau Rupanya merdeka tidak lantas lepas dari susah payah Lekaslah pulih, Indonesia Aku menjelang menangmu dalam tiap sikap Aku menunggu tenangmu agar terus menetap

Elegi

Kulepas kamu dengan sadar, satu-satunya harapan kala peliknya hari sedang unjuk gigi. Hampa kuijinkan berkunjung barang sejenak. Cukup singkat sebelum kulenyapkan. Kuputuskan berlari kepada sajak. Tidak lagi merajuk. Tidak lagi mengutuk. Tidak akan lagi kupinta barang sekadar percakapan. Hadirmu seutuhnya kuasamu, kupastikan absenmu tidak lagi mengusik. Kusanggupi berdiri menantang sepi setelah ini. Maka, jadilah kuat juga. Elegi ini kusudahi.

Kenapa Menulis?

Kenapa menulis? Ya karena mau. Mampu. Dan tidak tahu malu. Hmmmm. Nggak nggak, bercanda, hehe. Begini, alasan menulis yang paling utama karena pikiranku nggak pernah sepi. Nggak pernah satu hari aku lewatkan tanpa seliweran pertanyaan, asumsi, pengetahuan baru, dan bahkan hal sepele semisal resep makanan dan harga baju. Yang kulakukan pertama kali adalah proses penyaringan pikiran, mana yang layak diingat dan diabadikan, mana yang hanya dibiarkan lewat. Yang layak diingat dan diabadikan, baru aku tuliskan (atau foto kalau perlu dan sempat). Menulis hanya bagian dari menuangkan pikiran. Khusus untuk blog, aku sengaja isi tema cinta dan hidup, disusul sastra, dan pemikiran-pemikiran random yang sering muncul saat tengah malam lewat sedikit. Kepala yang terlalu penuh bisa merepotkan aktivitas, dan menulis bisa sedikit meredakan itu. Alasan menulis kedua, karena punya banyak ide-ide gila atau kepala yang nggak pernah berhenti bekerja, aku jadi cerewet ke orang-orang terdeka...

Self-Love

Semenjak saat itu, hati ini berkelana ke sana kemari seolah mencari suaka padahal bukan. Hanya merayapi sepi demi sepi yang lain, senang demi senang yang samar. Kata orang ikuti kata hati, namun hatiku asyik berdiam diri. Membiarkanku hilang arah. Bisikan lirih mengingatkanku bahwa seharusnya aku hanya diam. Menikmati sembuhnya luka yang tertolong waktu. Menikmati heningnya hari dan hati. Menggamit mimpi dan kebebasan yang menunggu di tikungan. Menikmati alam yang menjanjikan ramai bermakna. Menikmati bercakap-cakap dengan diri sendiri yang lama tak bersua. Lama tak kucinta. Aku pernah kehilangan separuh diriku, dan sedang menggapainya kembali. Mencoba mencintai diri ini sekali lagi, tanpa kecuali. Karena hanya dengan mengapresiasi diri, meluaskan maaf, dan menerima rasa sakit dengan lapang dada : maka aku hidup. Maka aku utuh. Selamat datang kembali, diriku. Jangan dulu kamu lari kepada cinta-cinta semu. Wahai diri, mari saling mencintai. Mari saling memiliki. Mari bersi...

Malang

Image
Setelah turun dari kereta jam 7 pagi, kenapa nggak menikmati kota sambil sedikit olahraga (baca : jalan kaki)? Ini lah hasilnya dengan sentuhan efek dari VSCO. Lokasi diambil di sekitaran Jalan Tugu. Hasil keisengan di suatu Minggu pagi :

Siap Memulai Hubungan Baru?

Assalamualaikum teman-teman pembaca. Selamat pagi juga (iya ini udah masuk dini hari lho). Akhir-akhir ini lagi trending MVnya "Adu Rayu" karya Tulus, Glenn, dan Yovie di YouTube. Udah pada liat nggak? Yang belum, liat gih. Bagus. Awalnya aku nggak ngerasain apa-apa, tapi nagih juga akhirnya hehehehehe. (Oh iya btw ini bukan promosi MV ya, tapi memang bagus). Terkait dengan MV itu, akhirnya aku tergerak menuliskan tentang relationship secara gamblang. Iya soalnya selama ini cuma lewat puisi atau prosa, kode-kodean gitu lah biasa perempuan suka ribet. Sekarang aku mau menuliskan ini secara "agak detail". Disebut "agak detail" karena cuma membahas sudut pandangku tentang alur cerita di MV itu dan menyinggung sedikit tentang konsep hubungan, nggak membahas panjang lebar. Tapi tetep banyak sih..... Inti cerita di MV adalah kehadiran orang baru di tengah-tengah pasangan yang sedang bermasalah. Di salah satu komentar di MV itu, ada yang bilang, ...