Hadirmu
Huruf tak lagi dapat dikenali. Bersamaan dengan itu pula waktu mengkristalkan diri. Beku, enggan bergerak kemana pun. Sesaat kehilangan orientasi. Inilah yang orang sebut nyata? Kenyataan yang hidup dalam kepalsuan harian yang sulit dimengerti. Kenyataan yang hanya ada ketika waktu tidak menjamah tempat kita berpijak. Atau tubuh ini memang hanya alat? Tak ada kata bukan berarti tak bicara. Kita bicara. Melampaui frasa kalimat baku dan majas-majas yang penempatannya tidak tepat. Ya, Sayang, kita bicara. Bicara bahasa non-manusia, mungkin? Bahasa sehalus udara yang kita hela dan sering terlupa. Begitu saja. Apa adanya.
Semua ini tak bermuara, atau tepi memang hanya kasat mata dan sudut menunggu kita terbentur lalu sadar. Luas itu tidak pasti, maka aku tetap menikmati. Lagipula sejak kapan rasa memiliki satuan luas. Aku menikmati kenyataan yang mencakup binar sepasang mata dan senyum-separuh yang menyihirku menjadi pendamba ulung. Yang tak kunjung beranjak karena kesadaran akan manusia yang harus mawas diri. Lelah. Dimana tempat itu? Tempat dimana dusta itu tidak ada. Lalu di sini, siapa aku? Siapa kamu?
Ijinkan kusimpan satu detik ini. Karena 24 itu terlampau mewah dan nol detik itu mutlak kemunafikan. Selepas ini, semua runtuh. Dibumi hanguskan oleh ikatan sementara dan formalitas fana. Toh, kita telah saling bertukar cerita singkat tadi. Karena sepasang mata itu tidak turut terbelit hentakan usang waktu. Dan ada aku di sana. Mencoba mengenali huruf demi huruf karena kehadiranmu membuat semuanya asing. Hanya kita, tidak perlu mengerti. Tapi, siapa kita?
(Will be edit soon. I felt it, then wrote it right at my phone. I just want to wrote it)
Semua ini tak bermuara, atau tepi memang hanya kasat mata dan sudut menunggu kita terbentur lalu sadar. Luas itu tidak pasti, maka aku tetap menikmati. Lagipula sejak kapan rasa memiliki satuan luas. Aku menikmati kenyataan yang mencakup binar sepasang mata dan senyum-separuh yang menyihirku menjadi pendamba ulung. Yang tak kunjung beranjak karena kesadaran akan manusia yang harus mawas diri. Lelah. Dimana tempat itu? Tempat dimana dusta itu tidak ada. Lalu di sini, siapa aku? Siapa kamu?
Ijinkan kusimpan satu detik ini. Karena 24 itu terlampau mewah dan nol detik itu mutlak kemunafikan. Selepas ini, semua runtuh. Dibumi hanguskan oleh ikatan sementara dan formalitas fana. Toh, kita telah saling bertukar cerita singkat tadi. Karena sepasang mata itu tidak turut terbelit hentakan usang waktu. Dan ada aku di sana. Mencoba mengenali huruf demi huruf karena kehadiranmu membuat semuanya asing. Hanya kita, tidak perlu mengerti. Tapi, siapa kita?
(Will be edit soon. I felt it, then wrote it right at my phone. I just want to wrote it)
Comments