Listen (Self Reminder)

I'm blessed, 'cause I have an ability to listen people.

Sering kejadian aku secara tidak sengaja ngobrol sama orang di tempat umum. Entah berawal dari tanya jam kereta, tanya jadwal, mengomentari suatu hal, atau apapun, seringnya berlanjut ke pembicaraan lain. Cerita-cerita yang orang lain sampaikan, bagiku termasuk hal yang berharga.

Contohnya hari ini. Aku ketemu seorang ibu (sebenarnya udah nenek-benek sih, yang aku lupa tanya umur berapa saking asiknya ngobrol tadi), lalu beliau cerita tentang anak-anak, saudara, keponakan, pokoknya semua keluarganya dan kegiatan yang beliau lakukan. Sebenarnya, aku nggak banyak cerita. Kayaknya memang nggak cerita apapun juga. Cuma mendengarkan beliau yang cerita, dan aku menanggapi ceritanya (kayaknya emang aku keseringan gitu deh wkwk). Apa yang aku dapat dari cuma mendengarkan? Banyak. Aku dapet cerita baru, pengalaman baru, teman baru. Aku jadi lebih banyak mengetahui meskipun belum tentu mengerti. Bonusnya, aku tadi didoakan yang baik-baik sama si ibu. Doa lho ini. A priceless gift.

Memang sih. Berbicara dengan orang asing sembarangan itu juga ada bahayanya. Ya kalau orang itu baik, kalau ternyata enggak? Kenalan sama orang juga harus hati-hati. Dilihat dulu.

Tapi, poin utama yang mau aku sampaikan adalah proses mendengarkan itu sendiri. Banyak orang, termasuk aku sendiri mungkin sering maunya cuma didengar. Apa pun ceritanya, pokoknya harus didengerin dan ditanggapi. Nggak mau dicuekin. Karenanya, mendengarkan orang lain jadi hal yang membosankan dan tidak menarik. Maunya didengerin. Tok. Kalau dengerin orang, rasanya tuh nggak penting, bukan kita sendiri yang mengalami, kita nggak ngerti, dan berbagai alasan lainnya.

Jangankan di tempat umum. Di tempat yang biasa kita datangi sehari-hari, kita mulai apatis. No offense, karena aku sendiri begitu. Udah capek, suntuk, lalu harus mendengarkan orang lain? Haduh. Yang ada malah makin pusing. Makin bete. Apalagi kalau yang mendengarkan ini orangnya tipe pemikir, yang segala seuatunya dipikirin. Wah....

Yang aku sadari adalah : bahwa mendengarkan itu ternyata bukan hal remeh. Dan mendengarkan adalah sikap yang mulai hilang akibat pemikiran "buat apa peduli sama masalahmu, toh bukan urusanku". Aku menulis ini sekaligus untuk self reminder (lagi). Karena aku sendiri masih belum sepenuhnya bisa untuk jadi pendengar yang baik, masih pilih-pilih orang untuk didengarkan, masih suka cuek ke orang kalau lagi bete, sekalipun aku tetap berusaha untuk mendengarkan orang dan memberi atensi lebih terhadap apa yang mereka ceritakan.

Siapa yang tau kalau dengan mendengarkan, bisa meringankan beban orang lain? Mendengarkan. Memberi atensi. Lalu memahami. Siapa yang tau dengan begitu, orang lain jadi merasa lebih lega dan lebih baik?

Tapi, bedakan dengan mendengarkan setiap hal yang orang katakan. It's different thing. Kalau perkataan orang lain tidak bersifat membangun dan cuma mencela terus, maka abaikan. Kalau sekiranya bisa untuk memperbaiki diri, maka dengarkan. Iya, mendengarkan juga bisa berdampak buruk. Contohnya ya kalau kita terus menerus mendengarkan tanggapan orang yang sifatnya negatif. Berguna enggak, membangun enggak, buat capek iya. Untuk apa? Kalau yang begitu sih, didengarkan seperlunya aja.

Mendengarkan memang bukan hal sepele. Mendengarkan terkadang jadi aspek penting dalam kehidupan sehari-hari. Lalu kenapa tidak mencoba saling mendengarkan untuk saling memahami?

(Di atas kereta Penataran, 13.21 WIB)

Popular posts from this blog

Malang

I'm Ready Again, 2019