Satu Surat
Kepada,
yang katanya wakil rakyat
di ruangan dingin
Dengan hormat,
Hanya mengingatkan Pak, Bu, anarki sejati tidak pernah mati. Cuma jiwa yang berganti dan aksi yang memperbanyak diri. Sekali Bapak dan Ibu memantik api kemarahan kami karena terjadi ketidakadilan, maka kami akan terus melawan. Cinta negara memang produk politik identitas. Tapi politik atau bukan, NKRI adalah janji pulang paling tenang. Seumur hidup kami menyebutnya kampung halaman. Rasa ini mutlak, maka tanah air kami jangan terus menerus diusik. Jangan terlena kenyamanan dan tingginya status jabatan.
Karena kami tidak hidup di taraf kenyamanan yang sama. Selama Bapak dan Ibu enak-enakan, sebagian dari kami keras bertahan. Sekedar ingin cari makan. Jangan lupakan hukum ditetapkan untuk mencapai keteraturan serta kemakmuran, bukan membeda-bedakan. Bukan sekedar mencari cuan. Pak, Bu, kami ini cuma diam. Bukan tidak paham lalu menolak ambil bagian. Sekali lagi, jangan remehkan kami. Karena pada waktunya, kami lekas bangkit dan kembali. Kami non-apatis.
Tulisan ini dibuat dengan sadar dan kesal. Untuk menambah literasi perlawanan. Dan mudah-mudahan menggugah kesadaran Bapak dan Ibu bahwa kami ada. Kami mengawasi.
Aku menulis, maka aku melawan.
Reeka,
26 September 2019
yang katanya wakil rakyat
di ruangan dingin
Dengan hormat,
Hanya mengingatkan Pak, Bu, anarki sejati tidak pernah mati. Cuma jiwa yang berganti dan aksi yang memperbanyak diri. Sekali Bapak dan Ibu memantik api kemarahan kami karena terjadi ketidakadilan, maka kami akan terus melawan. Cinta negara memang produk politik identitas. Tapi politik atau bukan, NKRI adalah janji pulang paling tenang. Seumur hidup kami menyebutnya kampung halaman. Rasa ini mutlak, maka tanah air kami jangan terus menerus diusik. Jangan terlena kenyamanan dan tingginya status jabatan.
Karena kami tidak hidup di taraf kenyamanan yang sama. Selama Bapak dan Ibu enak-enakan, sebagian dari kami keras bertahan. Sekedar ingin cari makan. Jangan lupakan hukum ditetapkan untuk mencapai keteraturan serta kemakmuran, bukan membeda-bedakan. Bukan sekedar mencari cuan. Pak, Bu, kami ini cuma diam. Bukan tidak paham lalu menolak ambil bagian. Sekali lagi, jangan remehkan kami. Karena pada waktunya, kami lekas bangkit dan kembali. Kami non-apatis.
Tulisan ini dibuat dengan sadar dan kesal. Untuk menambah literasi perlawanan. Dan mudah-mudahan menggugah kesadaran Bapak dan Ibu bahwa kami ada. Kami mengawasi.
Aku menulis, maka aku melawan.
Reeka,
26 September 2019
Comments