Satu Sedih

"Kau tahu satu hal yang membuatku sedih?"
"Apa?"
"Bahasaku telah mati. Dilepas satu persatu dari maknanya dan ditaburkan dalam bumi. Kini menghilang. Ingin tahu yang lebih menyakitkan?"
"Apakah itu?"
"Kau yang tidak memperhatikan. Bara di sepasang mata itu telah lama padam, dan kini menyala lagi. Untuknya"
"Itu tidak benar!"
"Jika memang tidak benar, perlukah tanda seru itu kau serukan? Untukku, yang tetap berdiri hingga kini, menancap dalam pada bumimu. Perlukah?"


Ekspektasimu bergelimpangan, menghalangi diriku yang sebenarnya dalam menemukan jalan. Padamu. Tersandung ekspektasi itu, dan berakhir dengan hilangnya eksistensi diri sendiri. Digantikan oleh keinginanmu.

Rasa nyeri tidak merambati dirimu selayaknya mereka menggerogotiku dari dalam. Diam ibarat upaya pengorbanan. Dirasa masih kurang. Kemudian bara itu perlahan padam. Digelapkan, lagi-lagi oleh ekspektasi yang kini bersekongkol dengan prasangka.

Maka pergilah aku.
Maka pergilah kamu.
Jangan lagi ada satu, dia telah menunggu.

Sayang, jangan salahkan aku jika masih merasakan baramu membakarku utuh. Karena aku tak pernah sudi menghendaki bara itu untuk mati. Namun, lagi-lagi, dia-mu telah menunggu...

Comments

Popular posts from this blog

Malang

I'm Ready Again, 2019

Listen (Self Reminder)