Opini : Mengeluh (Self-reminder too)
Pernah nggak kepikiran untuk naik angkutan umum, ketika kamu merasa hari-harimu tidak begitu baik? Ketika kamu merasa sepi? Well, you should try.
Karena terlalu sering kemana-mana naik motor, di jalanan nggak berkomunikasi sama orang lain, jadinya aku nggak pernah mau tahu lingkungan sekitarku seperti apa. Kalau kepepet, malah milih naik ojek online karena praktis meskipun harganya bagiku cukup menguras kantong. Jadi ya mana sempat peduli sama dunia sekitar, yang ada malah galau melulu. Masa bodoh, kalau kata orang sih.
Beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan untuk naik angkot dari Sidoarjo ke Surabaya yang butuh waktu sekitar 40 menitan. Selain lebih hemat, aku bisa mengamati banyak orang juga. Sengaja aku memilih hal diluar rutinitasku karena aku juga bosan. Ternyata, naik angkot saat itu otomatis membuka mataku bahwa selama ini aku kurang bersyukur.
Sewaktu naik angkot, aku satu angkot sama nenek-nenek yang jualan mainan dari bambu dan jumlahnya pun cuma beberapa biji. Di depan nenek tadi, ada ibu-ibu yang udah agak tua juga yang sempat nawarin duduk di sebelahnya soalnya bangku deretanku panas kena sinar matahari. Melihat mereka membuat aku sadar, kenapa harus mengeluh sama bagaimanapun hidupku sekarang? Kenapa aku harus merasa paling susah, paling tidak punya jalan keluar? Nenek itu harus jualan mainan dulu untuk bisa makan mungkin, atau untuk beli obat, aku nggak perlu sampai seperti itu. Butuh apa-apa malah bisa tinggal minta. Ibu-ibu tadi pakaiannya lusuh, mungkin bajunya cuma sedikit dan dia cuma memikirkan besok makan apa, aku nggak perlu sampai begitu. Bajuku banyak tapi masih berasa kurang terus, maunya beli lagi beli lagi.
Aku bercermin ke diriku sendiri. Aku punya fisik yang masih sehat, aku bisa kemana-mana pakai sepeda motor atau kendaraan lainnya, aku masih bisa bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi tanpa perlu repot, nggak ada yang kurang, eh kena masalah sedikit langsung ngeluh. Langsung ini lah, itu lah. Padahal di luar sana, ada orang lain yang keadaannya tidak sebaik aku sekarang. Dan aku malah tidak bersyukur. Lihat kan, bagaimana dampak bersyukur itu luar biasa. Atau minimal, tidak mengeluh tentang banyak hal lah. Mengeluh cuma memperkeruh suasana hati. Pikiran yang baik dan positif akan membuat hidup menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Membuat diri kita sendiri jadi lebih berpikiran terbuka tentang apa-apa yang sudah Allah kasih tanpa ragu, dan nggak melulu membandingkan lalu mengeluh. Dan salah satu awal dari pikiran positif ya bersyukur itu tadi.
Ini pelajaran untuk aku yang masih sering mengeluh, masih sering merasa punya masalah paling berat dan masih sering kurang bersyukur, dan untuk kita semua juga.
Mengeluh itu nggak perlu. Karena Allah bisa kasih apapun yang kita mau, selama kita berdoa dan ngomong langsung sama Dia.
Mari saling mengingatkan :)
Karena terlalu sering kemana-mana naik motor, di jalanan nggak berkomunikasi sama orang lain, jadinya aku nggak pernah mau tahu lingkungan sekitarku seperti apa. Kalau kepepet, malah milih naik ojek online karena praktis meskipun harganya bagiku cukup menguras kantong. Jadi ya mana sempat peduli sama dunia sekitar, yang ada malah galau melulu. Masa bodoh, kalau kata orang sih.
Beberapa waktu yang lalu, aku memutuskan untuk naik angkot dari Sidoarjo ke Surabaya yang butuh waktu sekitar 40 menitan. Selain lebih hemat, aku bisa mengamati banyak orang juga. Sengaja aku memilih hal diluar rutinitasku karena aku juga bosan. Ternyata, naik angkot saat itu otomatis membuka mataku bahwa selama ini aku kurang bersyukur.
Sewaktu naik angkot, aku satu angkot sama nenek-nenek yang jualan mainan dari bambu dan jumlahnya pun cuma beberapa biji. Di depan nenek tadi, ada ibu-ibu yang udah agak tua juga yang sempat nawarin duduk di sebelahnya soalnya bangku deretanku panas kena sinar matahari. Melihat mereka membuat aku sadar, kenapa harus mengeluh sama bagaimanapun hidupku sekarang? Kenapa aku harus merasa paling susah, paling tidak punya jalan keluar? Nenek itu harus jualan mainan dulu untuk bisa makan mungkin, atau untuk beli obat, aku nggak perlu sampai seperti itu. Butuh apa-apa malah bisa tinggal minta. Ibu-ibu tadi pakaiannya lusuh, mungkin bajunya cuma sedikit dan dia cuma memikirkan besok makan apa, aku nggak perlu sampai begitu. Bajuku banyak tapi masih berasa kurang terus, maunya beli lagi beli lagi.
Aku bercermin ke diriku sendiri. Aku punya fisik yang masih sehat, aku bisa kemana-mana pakai sepeda motor atau kendaraan lainnya, aku masih bisa bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi tanpa perlu repot, nggak ada yang kurang, eh kena masalah sedikit langsung ngeluh. Langsung ini lah, itu lah. Padahal di luar sana, ada orang lain yang keadaannya tidak sebaik aku sekarang. Dan aku malah tidak bersyukur. Lihat kan, bagaimana dampak bersyukur itu luar biasa. Atau minimal, tidak mengeluh tentang banyak hal lah. Mengeluh cuma memperkeruh suasana hati. Pikiran yang baik dan positif akan membuat hidup menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Membuat diri kita sendiri jadi lebih berpikiran terbuka tentang apa-apa yang sudah Allah kasih tanpa ragu, dan nggak melulu membandingkan lalu mengeluh. Dan salah satu awal dari pikiran positif ya bersyukur itu tadi.
Ini pelajaran untuk aku yang masih sering mengeluh, masih sering merasa punya masalah paling berat dan masih sering kurang bersyukur, dan untuk kita semua juga.
Mengeluh itu nggak perlu. Karena Allah bisa kasih apapun yang kita mau, selama kita berdoa dan ngomong langsung sama Dia.
Mari saling mengingatkan :)