Long Story of 2017

Halo :D
Attention, it’s gonna be a long post, karena ini semacam rangkuman kehidupan 2017 (eh? Rangkuman?)

Banyak hal yang mau aku ceritakan, aku kasih pendapat, aku bagikan untuk dijadikan pembelajaran bagi orang lain, tapi aku bingung harus mulai dari mana. Sejak Januari sampai hari ini, banyak cerita, banyak hasil pikiranku yang terabaikan. Bahkan nggak aku tulis sama sekali di buku mana pun. Untungnya, hasil pikiranku itu nggak sepenuhnya hilang. But, here we goes……

Pertama, yang mau aku bahas adalah, I’m done with love. And also it’s drama. Bukan lantas aku sekarang desperate, menyerah, memandang “cinta” sebagai hal-hal yang cuma bisa menimbulkan sakit hati, atau membenci dan menganggap “cinta” dan yang mengalaminya itu orang bodoh. Tidak. Aku masih menganggap itu hal yang worth it dan aku nggak takut untuk menghadapinya lagi. Meskipun nggak sekarang, karena aku berpikir : yaudah sih, kalau memang nanti ketemu sama siapapun itu, ya pasti akan bertemu dan dipertemukan. Pasti akan indah. Setelah apa yang aku alami sepanjang 2015, 2016, dan 2017, aku memutuskan untuk mau sendirian dulu. Untuk menikmati waktu-waktuku yang hilang, momen-momen dalam hidup yang aku lewatkan, dan untuk lebih memberi atensi ke orang-orang lain yang memang ada untuk aku, memang sayang sama aku tanpa banyak tapi. Dalam hal ini aku mau lebih menghabiskan waktu untuk keluarga dan teman-teman.

Apa ada yang aku sesali dalam masalah “cinta” ini? Sama sekali nggak ada. Setidaknya aku dapat pengalaman dan pelajaran penting. Aku tau apa salahku, apa yang harus aku lakukan di masa depan, apa yang harus aku perbaiki. Aku juga akhirnya ngerasain lagi rasanya bebas, rasanya bisa menentukan apapun sesuai keinginanku sendiri, rasanya bebas melakukan apapun yang aku suka tanpa harus repot ini itu. Justru dengan semua yang terjadi selama setahun ini, aku ngerasa bahagia karena bisa kembali sendirian. Banget. Aku nggak punya ekspektasi apa-apa untuk 2018 : akan punya pacar kah? Akan ketemu seseorang spesial kah? Itu semua kukembalikan lagi ke Allah. Kalau ketemu, aku bakal seneng, kalau enggak pun berarti aku masih harus banyakin kegiatan positif yang lain dulu.

Kedua, tentang pertemanan. Still, teman-teman yang bertahan disaat terburukmu, adalah yang terbaik. Alhamdulillah lagi di 2017, aku banyak dapat teman baru. Masih komunikasi sama beberapa teman lama yang membawa dampak positif juga akhirnya. Masih bisa bagi waktu untuk temu kangen atau video call. Aku berterima kasih sama semua teman-temanku yang ada untuk nemenin aku, untuk mengingatkan, atau sekedar untuk ngasih aku pelajaran berharga. Yang mau dengerin aku ceriwis, yang nggak ada bosennya liat aku lagi dan lagi di sosmed atau bahkan di kehidupan nyata. Apa kehidupan pertemananku berjalan sebaik itu sepanjang tahun? Sekali lagi, enggak. Ada masalah-masalah pertemanan yang aku hadapi juga, tapi aku memilih untuk mengeliminasi itu dari memori. Aku ambil pelajaran, tapi bagaimana detail atau kronologis atau alasan dibaliknya, aku abaikan karena aku toh nggak mau tau lagi.

2017 ini juga mengajarkan bahwa keluarga adalah segalanya. Aku pernah ada di situasi dimana aku lebih mendengarkan dan berpihak kepada orang lain daripada sama keluarga. Kesalahan fatal. Akhirnya aku nggak dapet apa-apa selain rasa bersalah dan menyesal. Sekarang kalau ada waktu, sesedikit apapun, aku pulang ke rumah. Untuk ketemu Bapak, Ibuk, dan adek-adek. Memastikan bahwa mereka baik-baik aja dan bahagia. Bagiku itu adalah penyemangat tersendiri. Mereka adalah berkah Allah yang tidak akan berhenti aku syukuri.

Aku sendiri juga mengubah pandanganku dalam menghadapi hidup, menghadapi orang-orang sekitar, menghadapi masalah. Dulu, aku suka mikirin apa kata orang tentang aku. Aku kepikiran hal-hal sepele yang sebenarnya itu sama sekali bukan urusanku. Overthinking dimana-mana. Aku juga sering mengingat-ingat yang buruk tentang kejadian atau tentang orang lain, sering negative thinking duluan, melihat diri sendiri dan orang lain dari sisi jeleknya aja, sering kesel sama orang padahal orangnya juga nggak peduli, dan hal-hal negatif lainnya. Aku sampai mikir : masa iya aku hidup dengan mindset yang selalu negatif? Kenapa aku nggak melihat hari ini dan hari esok dengan positif?

Sekarang, aku nggak peduli orang mau bilang apa pun tentang aku. Mau mereka bilang ini itu, yasudah itu hak mereka untuk berbicara. Selama itu tidak merugikan aku, aku juga punya hak untuk mengabaikan. Kewajibanku bukan terhadap mereka. Dari pengalaman sepanjang tahun 2017 ini pun, aku nggak mau lagi memilih sesuatu atas dasar tekanan sosial atau komentar orang. Aku nggak mau melakukan sesuatu hanya karena ingin memenuhi standar dari orang lain yang jelas-jelas berbeda dari diriku sendiri. Aku mau apapun yang aku lakukan, apapun yang aku mau, itu murni keinginanku sendiri. Untuk diriku dan kewajibanku, dan tidak merugikanku atau orang lain. Aku juga nggak berdebat dan nggak mempermasalahkan keputusan orang lain, karena itu hak mereka. Aku berhenti melihat hidup orang lain karena itu nggak ada gunanya. Aku cuma fokus sama apa yang bisa aku lakukan, apa yang bisa aku ubah, apa yang ada di hidupku.

Intinya, di 2017 ini aku banyak mengalami kejadian dan banyak belajar. Aku banyak berpikir, lalu mencoba menerapkan perubahan yang bagiku itu baik. 2017 buat aku pribadi itu bukan cuma tahun yang sekedar lewat. Tapi tahun yang berarti. Aku nggak lagi menyakiti diriku sendiri. Aku lebih menikmati waktu yang aku punya. Aku tidak menyesali apa pun yang sudah terjadi. Aku berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku mulai belajar untuk berhenti apatis. Aku banyak bersyukur atas apa yang sudah Allah kasih. Aku bebas dan aku bahagia.

And I’m ready for 2018, with new hopes, without any expectation or negative minds. I’m gonna live, and face every surprises in this world. I know I can, and I believe with Allah’s plan.

Happy New Year, Everyone :)


xoxo

Popular posts from this blog

Malang

I'm Ready Again, 2019

Listen (Self Reminder)