Besar Kepala

Menyambung dari dua post sebelumnya yang tentang stagnan dan keengganan untuk belajar lebih banyak. Di post yang judulnya " Kontribusi ".

Ada banyak faktor kenapa orang jadi males belajar. Mungkin karena ada masalah lain yang menyita pikirannya, mungkin karena kurang sarana prasarana sehingga menimbulkan rasa malas, mungkin juga karena nggak begitu tertarik sama apa yang sedang dipelajari, dan banyak faktor lainnya.

Sebagai bentuk self-reminder dan untuk kita semua ambil pelajarannya, aku mau mengakui satu hal. Salah satu faktor aku malas belajar lebih banyak, karena aku merasa bisa. Aku merasa apa yang aku pelajari, ilmu yang aku punya, semuanya udah lebih banyak. Aku merasa udah jago, jadi nggak perlu belajar lagi. Bad habit. Yang memang sudah membawa dampak negatif juga untuk diri sendiri. Kesombongan itu tidak pernah baik.

Dalam Al-Qur’an juga disebutkan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang sombong dan berjalan di atas muka bumi dengan angkuh (QS. Luqman : 18). Aku juga kadang lupa bahwa aku bisa dapat ini semua, bisa ada di sini, itu karena Allah mengijinkan. Karena Allah memberi kesempatan. Coba kalau enggak, mau jadi apaan aku di bumi ini?

Lagipula sudah jelas efek dari kesombongan itu juga timbulnya mindset “nggak perlu belajar lagi, udah bisa kok”. Yang sering terjadi setelah itu adalah, karena nggak mau belajar, jadinya lupa apa yang sudah dipelajari, semua pekerjaan jadi nggak maksimal dan sikap kita sendiri secara tidak langsung akan berubah menjadi makin besar kepala dan suka meremehkan. Bukannya ilmunya nambah, yang ada malah semakin lama semakin hilang. Yang rugi siapa kalau bukan diri sendiri?

Dari apa yang aku alami, dari apa yang ada di diriku sendiri, aku berharap sedikit demi sedikit dari kita menghilangkan pikiran bahwa kita nggak perlu belajar lagi, nggak perlu dengarkan orang lain lagi, nggak perlu membuka pikiran untuk pendapat orang lain lagi karena merasa kita lah yang paling benar, kita yang paling pintar, paling baik, dan paling-paling lainnya yang kita kira kita tahu. Padahal yang mengetahui seseorang dengan sebenar-benarnya ya cuma Allah. Sisi lain dari sikap sombong juga lebih gampang men-judge orang lain tidak lebih baik dari kita. Padahal pikiran picik macam itu nggak ada gunanya. Karena apa yang bisa aku lakukan, belum tentu orang lain bisa. Dan apa yang orang lain bisa lakukan, belum tentu aku bisa. Semuanya punya kelebihan dan kekurangan kan?

Caraku untuk menghadapi rasa terlalu berpuas diri a.k.a sombong, adalah dengan berpikir bahwa apa yang aku miliki, apa yang aku banggakan, segalanya itu cuma sementara. Cuma titipan. Cuma perantara untuk mempermudah ibadah. Kalau semuanya itu besok diambil sama Allah, mau gimana? Mau sombong apa lagi? Mau pamer apa lagi? Nggak ada. Nggak bisa.
Namanya manusia, pasti rasa mau pamer, keinginan untuk menunjukkan diri atau menunjukkan apapun yang dimiliki. Kalau memang keinginan untuk menunjukkan diri itu nggak bisa di stop sama sekali, yang penting jangan berlebihan aja. Dipikir juga sebelum mau show up, faedahnya apa? Kira-kira menyakiti orang lain atau merugikan orang lain nggak?


Yang terpenting, kita sering-sering inget aja, Allah menciptakan semua manusia itu sempurna. Kenapa harus merasa lebih kalau pada dasarnya sama? Sama-sama ciptaanNya, sama-sama mampir di bumi, sama-sama makan nasi dan bisa mati, kenapa kudu sombong toh?

Popular posts from this blog

Malang

I'm Ready Again, 2019

Listen (Self Reminder)