Pintar
Selamat pagi. Semoga kegiatan kita hari ini diberkahi Allah.
Aku mau menulis tema "pintar" ini karena sejak jaman sekolah sampai sekarang sudah beberapa kali aku dengar.
Pernah dengar nggak kalimat "Dia pintar" atau "Dia kurang pintar" yang dilontarkan orang? Pasti pernah, aku yakin. Aku sangat tergelitik akan konsep "pintar" dan "kurang pintar" ini (sengaja aku tulis kurang pintar, karena kalau menulis tidak pintar itu terlalu keras bahasanya. Semua orang kan punya kepintaran dan kemampuannya masing-masing). Aku tergelitik karena aku bingung : itu dinilai dari mana? Dari kemampuannya dalam bidang eksakta? Dari kemampuannya bersosialisasi? Dari kemampuannya memecahkan seluruh masalah hidupnya? Dari nilai akademiknya?
Menariknya, kemampuan dan pengalaman orang itu berbeda-beda.
Dari banyak hal yang aku amati, manusia itu jelas berbeda. Ada yang jago dalam bidang eksak, ada yang secara akademik dia biasa aja tapi dia lebih bisa bersosialisasi dan menjalin relasi, ada yang nggak supel sama banyak orang tapi dia lebih banyak membantu orang melalui aksinya, pun cara memecahkan masalah hidup bagi sebagian orang itu berbeda.
Apa yang sudah dialami seseorang, adalah salah satu pembentuk karakternya. Pengalaman, lingkungan, kadar masalah yang dialami dan penyelesaiannya, itu semua adalah beberapa faktor yang menjadikan manusia berbeda. Berbeda pemahamannya, berbeda cara belajarnya, berbeda bidang kemampuannya, berbeda caranya dalam menyelesaikan masalah. Nggak bisa kita menunjuk jari ke satu orang lalu menyatakan dia kurang pintar hanya karena ada hal-hal yang dia belum mampu melakukan atau belum pahami. Bisa jadi dia cakap di bidang lain yang kita belum mampu tekuni.
Bagaimanapun juga hidup ini relatif lho. Yang saat ini dibilang pintar atau kurang pintar, esok hari bisa berubah. Karena memang pada dasarnya semuanya akan berubah. Daripada melihat pintar atau tidaknya, kenapa nggak melihat dari "Apakah dia bisa memberi manfaat untuk orang sekitar?". Karena sebaik-baiknya manusia adalah dia yang dapat memberi manfaat untuk orang lain. Kalau fokus yang kita lihat adalah kebaikannya kepada orang lain, kita bisa aja tergerak untuk meniru kebaikannya, untuk ikut aktif demi bisa membantu orang lain juga, ya toh?
Atau bisa juga kita lihat orang dari seberapa keras dia berusaha dan berjuang untuk hidupnya dan hidup orang lain. Bagaimana semangatnya dalam menghadapi segala hal, bagaimana semangatnya dalam menjalani hidup dengan kekurangan yang dia miliki, bagaimana semangatnya dia melakukan sesuatu untuk kebaikan dirinya dan orang lain. Daripada melihat pintar atau tidaknya, kenapa nggak melihat kebaikannya? Semangatnya untuk hidup?
Jadi, konsep pintar dan kurang pintar itu sebenarnya bagaimana? Aku masih belum sepenuhnya ngeh. Semua manusia punya keunikan dan ciri khasnya sendiri. Bagiku semuanya pintar, cuma berbeda bidang kepintarannya. Tergantung bagaimana kita melihat juga sih.
Maka mari kita lihat yang baik-baik saja, kawan. Karena pada dasarnya memang semua manusia terlahir dengan kepintaran dan kemampuannya masing-masing.
Baeklah. Semoga hasil pemikiran kali ini bisa sedikit memberi hal positif, kalau pun enggak ya semoga terhibur bacanya (terhibur?). Hehehehehe. Cheers, and see ya ~
Aku mau menulis tema "pintar" ini karena sejak jaman sekolah sampai sekarang sudah beberapa kali aku dengar.
Pernah dengar nggak kalimat "Dia pintar" atau "Dia kurang pintar" yang dilontarkan orang? Pasti pernah, aku yakin. Aku sangat tergelitik akan konsep "pintar" dan "kurang pintar" ini (sengaja aku tulis kurang pintar, karena kalau menulis tidak pintar itu terlalu keras bahasanya. Semua orang kan punya kepintaran dan kemampuannya masing-masing). Aku tergelitik karena aku bingung : itu dinilai dari mana? Dari kemampuannya dalam bidang eksakta? Dari kemampuannya bersosialisasi? Dari kemampuannya memecahkan seluruh masalah hidupnya? Dari nilai akademiknya?
Menariknya, kemampuan dan pengalaman orang itu berbeda-beda.
Dari banyak hal yang aku amati, manusia itu jelas berbeda. Ada yang jago dalam bidang eksak, ada yang secara akademik dia biasa aja tapi dia lebih bisa bersosialisasi dan menjalin relasi, ada yang nggak supel sama banyak orang tapi dia lebih banyak membantu orang melalui aksinya, pun cara memecahkan masalah hidup bagi sebagian orang itu berbeda.
Apa yang sudah dialami seseorang, adalah salah satu pembentuk karakternya. Pengalaman, lingkungan, kadar masalah yang dialami dan penyelesaiannya, itu semua adalah beberapa faktor yang menjadikan manusia berbeda. Berbeda pemahamannya, berbeda cara belajarnya, berbeda bidang kemampuannya, berbeda caranya dalam menyelesaikan masalah. Nggak bisa kita menunjuk jari ke satu orang lalu menyatakan dia kurang pintar hanya karena ada hal-hal yang dia belum mampu melakukan atau belum pahami. Bisa jadi dia cakap di bidang lain yang kita belum mampu tekuni.
Bagaimanapun juga hidup ini relatif lho. Yang saat ini dibilang pintar atau kurang pintar, esok hari bisa berubah. Karena memang pada dasarnya semuanya akan berubah. Daripada melihat pintar atau tidaknya, kenapa nggak melihat dari "Apakah dia bisa memberi manfaat untuk orang sekitar?". Karena sebaik-baiknya manusia adalah dia yang dapat memberi manfaat untuk orang lain. Kalau fokus yang kita lihat adalah kebaikannya kepada orang lain, kita bisa aja tergerak untuk meniru kebaikannya, untuk ikut aktif demi bisa membantu orang lain juga, ya toh?
Atau bisa juga kita lihat orang dari seberapa keras dia berusaha dan berjuang untuk hidupnya dan hidup orang lain. Bagaimana semangatnya dalam menghadapi segala hal, bagaimana semangatnya dalam menjalani hidup dengan kekurangan yang dia miliki, bagaimana semangatnya dia melakukan sesuatu untuk kebaikan dirinya dan orang lain. Daripada melihat pintar atau tidaknya, kenapa nggak melihat kebaikannya? Semangatnya untuk hidup?
Jadi, konsep pintar dan kurang pintar itu sebenarnya bagaimana? Aku masih belum sepenuhnya ngeh. Semua manusia punya keunikan dan ciri khasnya sendiri. Bagiku semuanya pintar, cuma berbeda bidang kepintarannya. Tergantung bagaimana kita melihat juga sih.
Maka mari kita lihat yang baik-baik saja, kawan. Karena pada dasarnya memang semua manusia terlahir dengan kepintaran dan kemampuannya masing-masing.
Baeklah. Semoga hasil pemikiran kali ini bisa sedikit memberi hal positif, kalau pun enggak ya semoga terhibur bacanya (terhibur?). Hehehehehe. Cheers, and see ya ~