Baca Komentar Netizen : Opsi Pemidanaan?
Sedang asik ngopi sambil scroll-scroll Twitter. Lalu menemukan sebuah fakta bahwa : satu, media sosial bisa jadi "tempat menghujat" yang luar biasa dampaknya bagi psikis seseorang (apalagi kalau se-Indonesia bisa ikutan menghujat). Dua, media sosial juga bisa dijadikan sebagai bagian dari sistem pengawasan atas norma atau hukum. Media sosial jadi wadah bagi orang untuk melaporkan permasalahan yang dia lihat langsung, kecuali hal-hal yang berkaitan dengan privasi dan nama baik orang lain yg memang dilarang disebarkan dan harus dilaporkan secara face to face ke pihak berwajib, tanpa melalui media apapun.
Lalu di kepalaku, muncul lagi satu pemikiran (yang menurutku agak konyol tapi kepikiran juga) : kenapa nggak sekalian aja media sosial digunakan untuk hukuman? Hukuman sosial. Alternatif pemidanaan. Judul hukumannya "Baca Komentar Netizen". (Kocak kan? Nggak tau kenapa terlintas seperti itu di pikiran).
Biarkan pelaku kejahatan baca semua komentar jahat netizen tentang diri dan perbuatannya. Suruh aja baca tiap hari selama 2 minggu. Awalnya sempat kupikir lebih baik gitu : hukuman sosial dalam kehidupan nyata (kecuali pesekusi sembarangan), misalnya aja disuruh kerja lalu uangnya digunakan untuk mengganti akibat perbuatannya, itupun dia diawasi 24/7. Sekaligus hukuman sosial dalam dunia maya : suruh baca komentar netizen dalam waktu yg sudah ditentukan, tapi nggak boleh pakai hapenya sendiri, melaksanakannya pun harus diawasi. Konyol sih, tapi menurutku ini ampuh untuk kasih efek jera beserta kasih pembalasan untuk semua sikapnya. Daripada apa-apa penjara, salah sedikit penjara. Jadi penuh itu penjaranya.
Tapi ternyata opsi pemidanaan ini pun juga punya kelemahan.
Secara psikis kalau disuruh terus menerus baca komentar netizen, itu juga nggak baik untuk si pelaku (kalau memang pelaku punya rasa sungkan atau rasa bersalah). Pelaku bagaimanapun juga adalah manusia. Manusia tetap punya hak untuk diperlakukan secara adil, baik, dan sebisa mungkin dibimbing untuk jadi lebih baik. Bukan hanya disalahkan, dikasih hukuman seberat-beratnya untuk kasih efek jera (dan mungkin shock), lalu sudah. Tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya, namun tetap diperhatikan juga hak-haknya. Karena itulah tadi sempat kutulis, ada batas waktunya juga untuk menjadikan komentar netizen jadi hukuman sosial. Cuma baca selama 2 minggu berturut-turut, atau semacamnya sesuai perbuatannya apa. Biar nantinya si pelaku ini nggak makin stres dan malah melakukan hal lebih parah.
Kelemahan lain dari komentar netizen ini : faedahnya selain "menyerang psikis pelaku"? Nggak ada. Rawan juga netizen nanti jadi ikutan salah, karena kebebasan beropini terkadang kelepasan jadi hujatan yg kejam dan melanggar sopan santun berbicara. Kalau ternyata keluarganya juga nggak sengaja baca, lah jadi masalah baru lagi bagi si netizennya. Tuntutan baru lagi. Hukuman lagi. Karena pengawasan dan penegakan hukum dalam dunia maya juga nggak sesederhana itu. Dunia maya itu terlalu luas, diimbangi sama kecanggihan teknologi yang terjangkau bagi semua orang. Gimana ngawasin sekian juta orang di dunia maya dalam waktu singkat?
Kelemahan lain dari menjadikan "Baca Komentar Netizen" sebagai hukuman sosial ternyata juga jadi PR tambahan untuk penegak hukum dan masyarakatnya yang nanti ikutan berpartisipasi ngasih komentarnya. Pun, karena dilakukan di dunia maya, maka akan rentan salah paham. Kalau nanti salah pahamnya antar netizen, ya masalah baru lagi kan?
Ternyata "Baca Komentar Netizen" lebih banyak kelemahannya untuk dilaksanakan. Post ini pun membuka ke pertanyaan-pertanyaan lain : lalu, cara apa lagi yang perlu untuk menanggulangi kelebihan napi di penjara? Apa cuma memperhatikan opsi pemidanaannya aja untuk menanggulangi masalah peningkatan kejahatan plus masalah pidana penjara ini? Rumit memang masalah-masalah sosial ini
Selamat bertambah dan menambah bacaan.
Cheers~
NB : Kalau ada salah kata atau ide, feel free to say it via email, anytime. Mari berdiskusi. Karena aku juga butuh pendapat-pendapat baru, butuh informasih baru, untuk masalah opsi pemidanaan beserta Baca Komentar Netizen ini.
Lalu di kepalaku, muncul lagi satu pemikiran (yang menurutku agak konyol tapi kepikiran juga) : kenapa nggak sekalian aja media sosial digunakan untuk hukuman? Hukuman sosial. Alternatif pemidanaan. Judul hukumannya "Baca Komentar Netizen". (Kocak kan? Nggak tau kenapa terlintas seperti itu di pikiran).
Biarkan pelaku kejahatan baca semua komentar jahat netizen tentang diri dan perbuatannya. Suruh aja baca tiap hari selama 2 minggu. Awalnya sempat kupikir lebih baik gitu : hukuman sosial dalam kehidupan nyata (kecuali pesekusi sembarangan), misalnya aja disuruh kerja lalu uangnya digunakan untuk mengganti akibat perbuatannya, itupun dia diawasi 24/7. Sekaligus hukuman sosial dalam dunia maya : suruh baca komentar netizen dalam waktu yg sudah ditentukan, tapi nggak boleh pakai hapenya sendiri, melaksanakannya pun harus diawasi. Konyol sih, tapi menurutku ini ampuh untuk kasih efek jera beserta kasih pembalasan untuk semua sikapnya. Daripada apa-apa penjara, salah sedikit penjara. Jadi penuh itu penjaranya.
Tapi ternyata opsi pemidanaan ini pun juga punya kelemahan.
Secara psikis kalau disuruh terus menerus baca komentar netizen, itu juga nggak baik untuk si pelaku (kalau memang pelaku punya rasa sungkan atau rasa bersalah). Pelaku bagaimanapun juga adalah manusia. Manusia tetap punya hak untuk diperlakukan secara adil, baik, dan sebisa mungkin dibimbing untuk jadi lebih baik. Bukan hanya disalahkan, dikasih hukuman seberat-beratnya untuk kasih efek jera (dan mungkin shock), lalu sudah. Tetap harus bertanggung jawab atas perbuatannya, namun tetap diperhatikan juga hak-haknya. Karena itulah tadi sempat kutulis, ada batas waktunya juga untuk menjadikan komentar netizen jadi hukuman sosial. Cuma baca selama 2 minggu berturut-turut, atau semacamnya sesuai perbuatannya apa. Biar nantinya si pelaku ini nggak makin stres dan malah melakukan hal lebih parah.
Kelemahan lain dari komentar netizen ini : faedahnya selain "menyerang psikis pelaku"? Nggak ada. Rawan juga netizen nanti jadi ikutan salah, karena kebebasan beropini terkadang kelepasan jadi hujatan yg kejam dan melanggar sopan santun berbicara. Kalau ternyata keluarganya juga nggak sengaja baca, lah jadi masalah baru lagi bagi si netizennya. Tuntutan baru lagi. Hukuman lagi. Karena pengawasan dan penegakan hukum dalam dunia maya juga nggak sesederhana itu. Dunia maya itu terlalu luas, diimbangi sama kecanggihan teknologi yang terjangkau bagi semua orang. Gimana ngawasin sekian juta orang di dunia maya dalam waktu singkat?
Kelemahan lain dari menjadikan "Baca Komentar Netizen" sebagai hukuman sosial ternyata juga jadi PR tambahan untuk penegak hukum dan masyarakatnya yang nanti ikutan berpartisipasi ngasih komentarnya. Pun, karena dilakukan di dunia maya, maka akan rentan salah paham. Kalau nanti salah pahamnya antar netizen, ya masalah baru lagi kan?
Ternyata "Baca Komentar Netizen" lebih banyak kelemahannya untuk dilaksanakan. Post ini pun membuka ke pertanyaan-pertanyaan lain : lalu, cara apa lagi yang perlu untuk menanggulangi kelebihan napi di penjara? Apa cuma memperhatikan opsi pemidanaannya aja untuk menanggulangi masalah peningkatan kejahatan plus masalah pidana penjara ini? Rumit memang masalah-masalah sosial ini
Selamat bertambah dan menambah bacaan.
Cheers~
NB : Kalau ada salah kata atau ide, feel free to say it via email, anytime. Mari berdiskusi. Karena aku juga butuh pendapat-pendapat baru, butuh informasih baru, untuk masalah opsi pemidanaan beserta Baca Komentar Netizen ini.