Siap Memulai Hubungan Baru?
Assalamualaikum teman-teman pembaca.
Selamat pagi juga (iya ini udah masuk dini hari lho).
Akhir-akhir ini lagi trending MVnya "Adu Rayu" karya Tulus, Glenn, dan Yovie di YouTube. Udah pada liat nggak? Yang belum, liat gih. Bagus. Awalnya aku nggak ngerasain apa-apa, tapi nagih juga akhirnya hehehehehe. (Oh iya btw ini bukan promosi MV ya, tapi memang bagus).
Terkait dengan MV itu, akhirnya aku tergerak menuliskan tentang relationship secara gamblang. Iya soalnya selama ini cuma lewat puisi atau prosa, kode-kodean gitu lah biasa perempuan suka ribet. Sekarang aku mau menuliskan ini secara "agak detail". Disebut "agak detail" karena cuma membahas sudut pandangku tentang alur cerita di MV itu dan menyinggung sedikit tentang konsep hubungan, nggak membahas panjang lebar. Tapi tetep banyak sih.....
Inti cerita di MV adalah kehadiran orang baru di tengah-tengah pasangan yang sedang bermasalah.
Di salah satu komentar di MV itu, ada yang bilang, "konflik kehadiran orang baru biasanya muncul di hubungan yang udah berjalan 2-3 tahun, karena itu adalah fase capek dan bosan". Ya aku mikir bahwa itu benar juga. 2 tahun pacaran (atau HTSan, atau temenan deket, atau apalah you named it, intinya menghabiskan waktu bareng dan hanya sama dia) itu hitungannya nggak sebentar lho. Itu waktu minimal untuk mengenal setidaknya 90% pribadi seseorang. Setelah udah tau semuanya, udah melewati semuanya, manusiawi kalau bosan. Ketika bosan dan banyak masalah, datanglah si orang baru yang menawarkan segala hal yang nggak ada di pasangan. Wah mantap. Goyah.
Nyatanya, sebagian besar orang akhirnya memilih kembali ke yang lama, jika memang hubungan mereka hanya dilanda bosan, dan punya potensi berkembang ke arah yang baik. Memperjuangkan hubungannya yang lama, bertahan sama yang lama ketika memang belum putus atau belum pisah. Kecuali kalau memang hubungannya sejak awal nggak ada rasa suka, sangat toxic dan nggak berkembang kemana-mana ya, itu beda cerita.
Kenapa sih kembali ke yang lama?
Kalau dari pengalaman pribadiku, sehebat dan semenarik apapun yang baru : aku, kalian, kita semua akan kembali ke yang lama karena orang itu yang udah tau buruknya kita, menemani saat susah, berjuang bareng dari awal, dan ada di saat kita butuh. Mungkin ada beberapa dari kalian yang memilih orang baru karena dia terlihat lebih baik, lebih pengertian, selalu ada, nggak bikin capek. Tapi nggak semudah itu lho menghilangkan bayangan seseorang yang udah susah senang bersama kita dalam kurun waktu 2-3 tahun apalagi lebih, yang udah kenal baik buruknya kita, hafal omelannya kita, mengerti bagaimana harus menyikapi kita. Nggak segampang itu pergi lalu lupa. Sekalipun akhirnya memilih yang baru nih, bayangan yang lama masih ada dan sering datang ke pikiran, kan?
Aku paham karena aku pernah ada di posisi itu. Aku pernah menjalani hubungan selama itu, selesai di tahun 2015, dan untuk melupakannya aku butuh waktu lama. 2018 pertengahan aku baru bisa beneran lepas, rela, dan memilih maju. Sebelumnya? Masih sering ingat. Masih ngerasa belum selesai. Rentang waktu 3 tahun itu memang ada 1-2 orang yang datang, tapi aku saat itu di posisi belum selesai sama kenangan dan rasaku, belum siap memulai hubungan baru, jadinya orang-orang baru ini aku banding-bandingkan sama yang lama. Mereka yang baru ini tidak bisa dan tidak aku ijinkan untuk sepenuhnya masuk ke kehidupanku. Akhirnya kami juga sering bermasalah. Dari situ aku paham bahwa melupakan orang nggak semudah itu. Mempersiapkan diri untuk hubungan baru pun nggak bisa singkat. Dia sudah lama jadi bagian keseharian kita, gimana mau dilupakan dengan cepat? Sekali lagi, ini dari sudut pandangku. Mungkin ada dari kalian yang berbeda.
Lanjut...
Di MV, Asti akhirnya balik ke Indra (lah, spoiler hahaha). Ya aku paham keputusannya dia. Komitmen memang nggak segampang itu berubah. Nggak bisa ada orang yang bisa meninggalkan si X, lalu memilih si Z tanpa ada jeda sebelumnya. Pasti butuh jeda waktu entah berapa lama. Kalaupun masih keras kepala memilih si Z/orang baru ini tanpa ada jeda waktu dan terburu-buru, kalau niat awalnya pun udah salah, pasti di tengah-tengah muncul pikiran : "Kok gini sih? Nggak kayak si X", "Kalau sama si X, pasti nggak gini", "Ah, tau gitu balik lagi aja sama si X", dst. Lalu goyah lagi ketika ada masalah. Orang lama muncul lagi. Nanti kalau nggak betah sama yang baru, balik lagi ke yang lama atau cari lagi yang baru. Ya kapan selesainya kalau gitu terus?
Kecuali kalau memang niatnya serius sama si orang baru ini, ikhlas menjalani apapun yang terjadi dan benar-benar udah menyelesaikan permasalahan sama yang lama, sungguh-sungguh mau maju bersama dan melupakan yang lama, ya oke lah. Nggak apa-apa. Setidaknya jangan memulai hubungan dengan perasaan dan niat yang salah. Kalau niat awal memilih yang baru hanya untuk pelarian, teman saat kesepian, nggak mau menerima baik buruknya, mending nggak usah sama sekali. Buat apa? Malah menambah masalah ke depannya. Jangan berani memilih orang baru kalau belum selesai sama yang lama, belum selesai sama diri sendiri juga.
Itulah kenapa sampai sekarang aku masih betah sendirian. Karena sampai saat ini belum menemukan yang sungguh-sungguh selesai dengan perasaannya, dengan masa lalunya, dan yang mau maju bareng. Aku butuh 3 tahun sendiri untuk menyelesaikan perasaanku, berdamai sama masa lalu, dan sampai di titik dimana ketika bercerita tentang dia aku bisa santai, tetap kuceritakan apa adanya dengan tetap menjaga nama baik dia. Karena memang aku sudah selesai, ya aku bisa terbuka ketika ditanya orang. Aku nggak percaya sama yang baru putus lalu asal bilang suka (apalagi yang masih lanjut ya). Dibayang-bayangi terus nanti. Itu yang perlu kita ketahui sebelum memulai hubungan : "Kamu udah beneran selesai belum sama dia? Udah kelar belum sama perasaanmu sendiri? Udah siap mulai hubungan baru? Kalau belum, ya nggak usah cari yang baru. Selesaikan dulu semua yang perlu kamu selesaikan, baru siapkan diri untuk memulai hubungan yang baru".
Itu salah satu poin yang mau aku sampaikan. Sebelum memilih seseorang, yakinkan dulu diri sendiri : sama yang lama udah beneran selesai? Udah siap memulai hubungan baru? Yakin bisa menghadapi apapun yang akan terjadi dengan pilihan yang ini? Dan banyak pertanyaan lainnya. Kalau ragu, ya jangan lanjut.
Untuk kalian yang sudah bertahun-tahun dan sedang mengalami godaan "ketemu-orang-baru" ini, coba pikir ulang juga : udah berapa lama pacaran? Yakin mau sering berantem gara-gara orang yang belum kalian kenal sepenuhnya? Coba ingat lagi itu gimana awal mula hubungan kalian, perjuangan kalian, kebersamaan dan waktu yang sudah kalian lewati bersama. Masa mau dibuang begitu aja? Masa mau diselesaikan dengan alasan capek, bosan, dan karena ada orang lain yang baru kalian kenal beberapa bulan? Hati-hati lho, nyaman itu bisa jadi tipuan. Yakin orang baru ini bisa hadapi kamu di saat kondisi terburukmu? Yang terpenting, yakin kamu bisa menerima seutuhnya dia tanpa dibayangi pasangan lamamu? Hayo.
Jadi, mulai lah hubungan ketika sama-sama udah siap, sama-sama selesai dengan masa lalu, sama-sama punya tujuan untuk melangkah maju dan menghadapi apapun bersama. Jangan mulai hubungan karena capek atau bosan sama yang lama, karena kesepian, dan karena alasan lain yang nggak baik dan akhirnya buat kita menyesal. Apalagi menyangkut perasaan orang, jangan gegabah.
Sekian dan semoga bisa menghibur, bermanfaat, atau membantu ke-galau-an kalian. Semoga yang lama bisa bertahan dan berbahagia, yang mau mencari yang baru juga semoga lekas dipertemukan dan berbahagia juga, pokoknya semoga semuanya berbahagia pada akhirnya nanti. Aaamiin.
xoxo
R.
Selamat pagi juga (iya ini udah masuk dini hari lho).
Akhir-akhir ini lagi trending MVnya "Adu Rayu" karya Tulus, Glenn, dan Yovie di YouTube. Udah pada liat nggak? Yang belum, liat gih. Bagus. Awalnya aku nggak ngerasain apa-apa, tapi nagih juga akhirnya hehehehehe. (Oh iya btw ini bukan promosi MV ya, tapi memang bagus).
Terkait dengan MV itu, akhirnya aku tergerak menuliskan tentang relationship secara gamblang. Iya soalnya selama ini cuma lewat puisi atau prosa, kode-kodean gitu lah biasa perempuan suka ribet. Sekarang aku mau menuliskan ini secara "agak detail". Disebut "agak detail" karena cuma membahas sudut pandangku tentang alur cerita di MV itu dan menyinggung sedikit tentang konsep hubungan, nggak membahas panjang lebar. Tapi tetep banyak sih.....
Inti cerita di MV adalah kehadiran orang baru di tengah-tengah pasangan yang sedang bermasalah.
Di salah satu komentar di MV itu, ada yang bilang, "konflik kehadiran orang baru biasanya muncul di hubungan yang udah berjalan 2-3 tahun, karena itu adalah fase capek dan bosan". Ya aku mikir bahwa itu benar juga. 2 tahun pacaran (atau HTSan, atau temenan deket, atau apalah you named it, intinya menghabiskan waktu bareng dan hanya sama dia) itu hitungannya nggak sebentar lho. Itu waktu minimal untuk mengenal setidaknya 90% pribadi seseorang. Setelah udah tau semuanya, udah melewati semuanya, manusiawi kalau bosan. Ketika bosan dan banyak masalah, datanglah si orang baru yang menawarkan segala hal yang nggak ada di pasangan. Wah mantap. Goyah.
Nyatanya, sebagian besar orang akhirnya memilih kembali ke yang lama, jika memang hubungan mereka hanya dilanda bosan, dan punya potensi berkembang ke arah yang baik. Memperjuangkan hubungannya yang lama, bertahan sama yang lama ketika memang belum putus atau belum pisah. Kecuali kalau memang hubungannya sejak awal nggak ada rasa suka, sangat toxic dan nggak berkembang kemana-mana ya, itu beda cerita.
Kenapa sih kembali ke yang lama?
Kalau dari pengalaman pribadiku, sehebat dan semenarik apapun yang baru : aku, kalian, kita semua akan kembali ke yang lama karena orang itu yang udah tau buruknya kita, menemani saat susah, berjuang bareng dari awal, dan ada di saat kita butuh. Mungkin ada beberapa dari kalian yang memilih orang baru karena dia terlihat lebih baik, lebih pengertian, selalu ada, nggak bikin capek. Tapi nggak semudah itu lho menghilangkan bayangan seseorang yang udah susah senang bersama kita dalam kurun waktu 2-3 tahun apalagi lebih, yang udah kenal baik buruknya kita, hafal omelannya kita, mengerti bagaimana harus menyikapi kita. Nggak segampang itu pergi lalu lupa. Sekalipun akhirnya memilih yang baru nih, bayangan yang lama masih ada dan sering datang ke pikiran, kan?
Aku paham karena aku pernah ada di posisi itu. Aku pernah menjalani hubungan selama itu, selesai di tahun 2015, dan untuk melupakannya aku butuh waktu lama. 2018 pertengahan aku baru bisa beneran lepas, rela, dan memilih maju. Sebelumnya? Masih sering ingat. Masih ngerasa belum selesai. Rentang waktu 3 tahun itu memang ada 1-2 orang yang datang, tapi aku saat itu di posisi belum selesai sama kenangan dan rasaku, belum siap memulai hubungan baru, jadinya orang-orang baru ini aku banding-bandingkan sama yang lama. Mereka yang baru ini tidak bisa dan tidak aku ijinkan untuk sepenuhnya masuk ke kehidupanku. Akhirnya kami juga sering bermasalah. Dari situ aku paham bahwa melupakan orang nggak semudah itu. Mempersiapkan diri untuk hubungan baru pun nggak bisa singkat. Dia sudah lama jadi bagian keseharian kita, gimana mau dilupakan dengan cepat? Sekali lagi, ini dari sudut pandangku. Mungkin ada dari kalian yang berbeda.
Lanjut...
Di MV, Asti akhirnya balik ke Indra (lah, spoiler hahaha). Ya aku paham keputusannya dia. Komitmen memang nggak segampang itu berubah. Nggak bisa ada orang yang bisa meninggalkan si X, lalu memilih si Z tanpa ada jeda sebelumnya. Pasti butuh jeda waktu entah berapa lama. Kalaupun masih keras kepala memilih si Z/orang baru ini tanpa ada jeda waktu dan terburu-buru, kalau niat awalnya pun udah salah, pasti di tengah-tengah muncul pikiran : "Kok gini sih? Nggak kayak si X", "Kalau sama si X, pasti nggak gini", "Ah, tau gitu balik lagi aja sama si X", dst. Lalu goyah lagi ketika ada masalah. Orang lama muncul lagi. Nanti kalau nggak betah sama yang baru, balik lagi ke yang lama atau cari lagi yang baru. Ya kapan selesainya kalau gitu terus?
Kecuali kalau memang niatnya serius sama si orang baru ini, ikhlas menjalani apapun yang terjadi dan benar-benar udah menyelesaikan permasalahan sama yang lama, sungguh-sungguh mau maju bersama dan melupakan yang lama, ya oke lah. Nggak apa-apa. Setidaknya jangan memulai hubungan dengan perasaan dan niat yang salah. Kalau niat awal memilih yang baru hanya untuk pelarian, teman saat kesepian, nggak mau menerima baik buruknya, mending nggak usah sama sekali. Buat apa? Malah menambah masalah ke depannya. Jangan berani memilih orang baru kalau belum selesai sama yang lama, belum selesai sama diri sendiri juga.
Itulah kenapa sampai sekarang aku masih betah sendirian. Karena sampai saat ini belum menemukan yang sungguh-sungguh selesai dengan perasaannya, dengan masa lalunya, dan yang mau maju bareng. Aku butuh 3 tahun sendiri untuk menyelesaikan perasaanku, berdamai sama masa lalu, dan sampai di titik dimana ketika bercerita tentang dia aku bisa santai, tetap kuceritakan apa adanya dengan tetap menjaga nama baik dia. Karena memang aku sudah selesai, ya aku bisa terbuka ketika ditanya orang. Aku nggak percaya sama yang baru putus lalu asal bilang suka (apalagi yang masih lanjut ya). Dibayang-bayangi terus nanti. Itu yang perlu kita ketahui sebelum memulai hubungan : "Kamu udah beneran selesai belum sama dia? Udah kelar belum sama perasaanmu sendiri? Udah siap mulai hubungan baru? Kalau belum, ya nggak usah cari yang baru. Selesaikan dulu semua yang perlu kamu selesaikan, baru siapkan diri untuk memulai hubungan yang baru".
Itu salah satu poin yang mau aku sampaikan. Sebelum memilih seseorang, yakinkan dulu diri sendiri : sama yang lama udah beneran selesai? Udah siap memulai hubungan baru? Yakin bisa menghadapi apapun yang akan terjadi dengan pilihan yang ini? Dan banyak pertanyaan lainnya. Kalau ragu, ya jangan lanjut.
Untuk kalian yang sudah bertahun-tahun dan sedang mengalami godaan "ketemu-orang-baru" ini, coba pikir ulang juga : udah berapa lama pacaran? Yakin mau sering berantem gara-gara orang yang belum kalian kenal sepenuhnya? Coba ingat lagi itu gimana awal mula hubungan kalian, perjuangan kalian, kebersamaan dan waktu yang sudah kalian lewati bersama. Masa mau dibuang begitu aja? Masa mau diselesaikan dengan alasan capek, bosan, dan karena ada orang lain yang baru kalian kenal beberapa bulan? Hati-hati lho, nyaman itu bisa jadi tipuan. Yakin orang baru ini bisa hadapi kamu di saat kondisi terburukmu? Yang terpenting, yakin kamu bisa menerima seutuhnya dia tanpa dibayangi pasangan lamamu? Hayo.
Jadi, mulai lah hubungan ketika sama-sama udah siap, sama-sama selesai dengan masa lalu, sama-sama punya tujuan untuk melangkah maju dan menghadapi apapun bersama. Jangan mulai hubungan karena capek atau bosan sama yang lama, karena kesepian, dan karena alasan lain yang nggak baik dan akhirnya buat kita menyesal. Apalagi menyangkut perasaan orang, jangan gegabah.
Sekian dan semoga bisa menghibur, bermanfaat, atau membantu ke-galau-an kalian. Semoga yang lama bisa bertahan dan berbahagia, yang mau mencari yang baru juga semoga lekas dipertemukan dan berbahagia juga, pokoknya semoga semuanya berbahagia pada akhirnya nanti. Aaamiin.
xoxo
R.